Friday, October 31, 2025

Catatan Dari Bawah Tanah

Membaca novel Fyodor Dostoevksy yang berjudul "Catatan dari Bawah Tanah" membuat saya berkali-kali membayangkan apa yang ada di kepala si Penulis ketika mengeja kata demi kata. Terus terang, ini bukan novel yang sulit tetapi juga bukan novel yang mudah untuk dipahami. Bukan semacam novel modern yang alurnya bisa ditebak dan kesimpulannya yang berakhir pada Kebahagiaan atau kesedihan.

Di awal-awal halaman, saya begitu sangat bergairah membaca buku ini karena Fyodor menulis perasaannya yang sebagian saya rasakan juga tetapi kita jarang sekali jujur kepada diri sendiri. Tulisan tentang bagaimana dia menjadi seorang pegawai dan motif apa yang ada dibalik setiap tindakannya.

Fyodor menulis dengan lantang "AKU ORANG SAKIT," tentu bukan sakit fisik tetapi pada masalah eksistensial yang dia rasakan. Dia mengaku seorang pendendam dan merasa bukanlah orang yang menarik. Namun layaknya orang yang sedang berada pada fases kelelahan eksistential, dia tidak pernah berniat mengunjungi dokter untuk sekadar membicarakan masalahnya. Setidaknya dia jujur akan segala hal yang dia rasakan.

Dia menghentakkan lagi ceritanya di bab kedua dengan narasi bahwa berkali-kali dia ingin menjadi seekor Serangga tetapi tetapi tidak bisa. 
Kenapa Serangga? Entahlah. Namun siapun dari kita pasti pernah berpikir setidaknya sekali dalam seumur hidup bahwa kenapa saya tidak diciptakan saja dalam bentuk yang lain selain manusia agar semua persoalan hidup segera lenyap.
Nah Fyodor kemudian mengakui bahwa terlalu sadar berupakan penyakit yang sangat parah. Tentu maksudnya di sini adalah kesadaran sebagai manusia akan banyak hal. Kesadaran yang pada akhirnya melahirkan berbagai rasa tanggung jawab akan hidup, maka dengan menjadi Serangga semua perasaan bertanggung jawab akan musnah.
Dia melanjutkan bahan reflektifnya bahwa antitesis dari manusia normal adalah manusia dengan kesadaran yang tajam. Pada poin ini, Fyodor merasa bahwa mayoritas manusia memiliki kesadaran palsu akan hidup yang dijalani, layaknya kehidupan yang mekanik.
Pada bagian lain, Fyodor menulis bahwa dalam setiap fase kehidupan bahkan penderitaan sekalipun, selalu ada kenikmatan. Sakit gigi contohnya. Meskipun rasa yang ditimbulkan lumayan menyiksa namun ketika mereka mengerang sakit maka di situlah kenikmatannya. Seandainya saja ketika orang yang sakit gigi tidak merasa nikmat ketika mengerang maka tentu dia tidak akan mengerang. Oh ya, bahkan mungkin kita tidak mengerang artinya manusia menemukan kenikmatan dalam diamnya ketika sakit gigi.
Pemberontakan Fyodor terhadap zaman pada saat dia hidup begitu terasa dalam tulisan-tulisannya di buku ini. Dia menyadari bahwa semakin manusia dianggap beradab maka semakin mereka menjadi pembantai yang licik. Fyodor hidup sebelum perang dunia tetapi dari sejarah, dia menyadari bahwa perkembangan zaman akan diiringi dengan tindakan manusia menghancurkan manusia lain dengan sangat bengis.
Katanya, telah membuat manusia, kalau tidak lebih haus dara, paling tidak lebih keji, lebih dahaga secara menjijikkan. Maka seharusnya akan dan ilmu pengetahuan sepenuhnya mendidik ulang sifat manusia dan mengubahkan ke arah yang normal. Pada poin ini, Fyodor berani mengatakan bahwa definisi terbaik manusia adalah makhluk berkaki dua yang tidak tahu terima kasih, entahlah mungkin dalam segala hal.
Ada yang cukup menarik dari apa yang dikatakan Fyodor bahwa berikan manusia kemakmuran ekonomi, sehingga dia tidak punya hal lain untuk dilakukan selain tidur, makan kue, menyibukkan diri dengan melanjutkan keturunan, bahkan kemudian lantaran sifatnya yang tidak teirma kasih, pendengki, manusia akan mempermainkanmu dengan akal bulus nan keji.
Pada akhirnya, ketika manusia tidak menemukan jalan keluar, dia akan menciptakan kehancuran dan kekacauan, menciptakan segala macam penderitaan, supaya dapat mencapai tujuan.

Buku 2026 (2)

Buku kedua yang saya lumat selama seharian di Januari 2026 adalah buku perjalanan spiritual Mohammad Zaim. Buku tentang perjalanan panjang t...