Buku kedua yang saya lumat selama seharian di Januari 2026 adalah buku perjalanan spiritual Mohammad Zaim. Buku tentang perjalanan panjang tidak hanya secara ruang dan waktu tetapi juga keputusan yang cukup besar bagi seorang pejalan dalam menemukan dirinya. Buku ini juga saya beli hanya karena sedang diskon di sebuah pameran. Tentu saya seringkali membeli buku-buku yang ditulis dengan ringan hanya dengan membaca judulnya yang menarik.
Judul : Secangkir Teh dan Sepotong KetupatISBN : 9786024021085
Berat : 310 gram
Dimensi (P/L/T) : 13 cm/ 21 cm/ 2 cm
Halaman : 368
Tahun Terbit : 2017
Jenis Cover : Soft Cover
Mohammad Zaim, seorang pemuda yang berasal dari Kediri, hidup dan tumbuh dalam keluarga yang normal dalam kehidupan kultur NU yang sangat kental. Ibunya memberikan nama sama seperti nama seorang kiai di Ponpes Purwoasri, Kediri. Tentu nama ini diberikan dengan harapan bahwa suatu saat dia juga akan menjadi seorang kiai.
Zaim sangat menyayangi kedua orang tuanya, khususnya ibunya yang dia panggil emak. Ibu dan bapaknya menikah setelah keduanya bercerita dari masing-masing pasangan sebelumnya. Kenangan dengan bapaknya tidak terlalu banyak karena semenjak Zaim duduku di kelas empat SD, bapaknya sakit parah.
Zaim mengaku bukan anak yang rajin belajar bahkan cenderung malas namun pertanyaan-pertanyaan seputar spiritual selalu menghantuinya. Dia sempat mencicipi belajar di Ponpes Lirboyo namun tidak bertahan lama. Meski demikian Zaim menamatkan pendidikannya sampai bangku SMA.
Setelah lulus SMA, dia memutuskan untuk mencoba nasibnya kuliah di UNESA dan memilih jurusan Sastra. Meski mengaku tidak belajar menjelang ujian, dia dinyatakan lulus pada saat pengumuman. Zaim sangat antusias namun masalah muncul ketika keluarganya menyarankan untuk kuliah saja di IAIN Sunan Ampel karena sedikit lebih murah. Melalui perdebatan panjang dengan kakaknya, akhirnya dia harus menerima nasib kuliah di IAIN, kampus yang tidak diinginkannya. Dia menjalani hari-hari di IAIN dalam kemurungan.
Pada satu titik, dia mempertanyakan semua nilai-nilai yang sudah dipelajari sejak kecil bahkan ajaran agama yang dianutnya. Perjalanan spiritualnya semakin membuncah dan sangat tertarik pada meditasi. Dia kemudian mencari tahu dimana tempat yang bisa menampungnya untuk melakukan meditasi.
Takdir mempertemukannya dengan berbagai jawaban mulai dari Klenteng di Surabaya, bahkan sampai di Singkawang, Kalimantan Barat. Pada akhirnya, dia memutuskan untuk tidak melanjutkan kuliahnya di IAIN dan memilih fokus untuk mempelajari spiritualitas Budha. Dia pindah kuliah ke sekolah STAB Nalanda di Jakarta dengan bermodalkan beasiswa.
Tidak sampai setahun, dia kemudian melanjutkan perjalanannya ke Plum Village, Bordeaux, belajar langsung ke master Zen, Thich Nhat Hanh. Perjalanan spiritualnya semakin jauh ke pelosok ajaran Budha.
Keputusan ke Prancis cukup nekat karena Zaim tidak punya modal sama sekali bahkan kemampuan bahasa Inggrisnya nihil. Dia tidak mampu berbicara bahasa Inggris meskipun yang paling sederhana. Kendala ini yang menyulitkannya awal-awal di Prancis. Sekitar enam tahun dia menimba ilmu di Prancis sebagai seorang Sramanera.
Zaim tidak terlalu detail menceritakan prosesi spiritualnya di Plum Village tetapi lebih menceritakan hal-hal teknis. Saya menduga mungkin karena pengalaman spiritual tidak akan mampu digambarkan melalui kata-kata.
Saya cukup salut kepada Zaim yang berani mengambil keputusan masuk sangat dalam ke ajaran agama lain namun tetap menganut agama lamanya. Di awal, dia sudah sangat yakin bahwa suatu saat dia akan kembali ke jalan. Perjalanan mempelajari agama Budha hanya sebagai cara lain memperkuat keyakinannya. Tentu pro kontra tetapi saya sendiri tentu tidak punya keberanian terperosok lebih dalam meskipun saya sangat ingin mendalami meditasi. Pilihan kelompok meditasi bernuansa Islam mungkin lebih baik.
Saya yakin bahwa konsep meditasi bukan hal eksklusif di Budha karena di setiap agama pun ada ajaran bagaimana kemudian memahami diri dan sadar akan diri, terjaga setiap waktu.
.jpeg)


