Sunday, January 11, 2026

Buku 2026 (2)

Buku kedua yang saya lumat selama seharian di Januari 2026 adalah buku perjalanan spiritual Mohammad Zaim. Buku tentang perjalanan panjang tidak hanya secara ruang dan waktu tetapi juga keputusan yang cukup besar bagi seorang pejalan dalam menemukan dirinya. Buku ini juga saya beli hanya karena sedang diskon di sebuah pameran. Tentu saya seringkali membeli buku-buku yang ditulis dengan ringan hanya dengan membaca judulnya yang menarik.

Judul                        : Secangkir Teh dan Sepotong Ketupat

ISBN                 : 9786024021085

Berat                 : 310 gram

Dimensi (P/L/T) : 13 cm/ 21 cm/ 2 cm

Halaman                  : 368

Tahun Terbit         : 2017

Jenis Cover         : Soft Cover

Mohammad Zaim, seorang pemuda yang berasal dari Kediri, hidup dan tumbuh dalam keluarga yang normal dalam kehidupan kultur NU yang sangat kental. Ibunya memberikan nama sama seperti nama seorang kiai di Ponpes Purwoasri, Kediri. Tentu nama ini diberikan dengan harapan bahwa suatu saat dia juga akan menjadi seorang kiai.

Zaim sangat menyayangi kedua orang tuanya, khususnya ibunya yang dia panggil emak. Ibu dan bapaknya menikah setelah keduanya bercerita dari masing-masing pasangan sebelumnya. Kenangan dengan bapaknya tidak terlalu banyak karena semenjak Zaim duduku di kelas empat SD, bapaknya sakit parah. 

Zaim mengaku bukan anak yang rajin belajar bahkan cenderung malas namun pertanyaan-pertanyaan seputar spiritual selalu menghantuinya. Dia sempat mencicipi belajar di Ponpes Lirboyo namun tidak bertahan lama. Meski demikian Zaim menamatkan pendidikannya sampai bangku SMA.

Setelah lulus SMA, dia memutuskan untuk mencoba nasibnya kuliah di UNESA dan memilih jurusan Sastra. Meski mengaku tidak belajar menjelang ujian, dia dinyatakan lulus pada saat pengumuman. Zaim sangat antusias namun masalah muncul ketika keluarganya menyarankan untuk kuliah saja di IAIN Sunan Ampel karena sedikit lebih murah. Melalui perdebatan panjang dengan kakaknya, akhirnya dia harus menerima nasib kuliah di IAIN, kampus yang tidak diinginkannya. Dia menjalani hari-hari di IAIN dalam kemurungan.

Pada satu titik, dia mempertanyakan semua nilai-nilai yang sudah dipelajari sejak kecil bahkan ajaran agama yang dianutnya. Perjalanan spiritualnya semakin membuncah dan sangat tertarik pada meditasi. Dia kemudian mencari tahu dimana tempat yang bisa menampungnya untuk melakukan meditasi.

Takdir mempertemukannya dengan berbagai jawaban mulai dari Klenteng di Surabaya, bahkan sampai di Singkawang, Kalimantan Barat. Pada akhirnya, dia memutuskan untuk tidak melanjutkan kuliahnya di IAIN dan memilih fokus untuk mempelajari spiritualitas Budha. Dia pindah kuliah ke sekolah STAB Nalanda di Jakarta dengan bermodalkan beasiswa.

Tidak sampai setahun, dia kemudian melanjutkan perjalanannya ke Plum Village, Bordeaux, belajar langsung ke master Zen, Thich Nhat Hanh. Perjalanan spiritualnya semakin jauh ke pelosok ajaran Budha.

Keputusan ke Prancis cukup nekat karena Zaim tidak punya modal sama sekali bahkan kemampuan bahasa Inggrisnya nihil. Dia tidak mampu berbicara bahasa Inggris meskipun yang paling sederhana. Kendala ini yang menyulitkannya awal-awal di Prancis. Sekitar enam tahun dia menimba ilmu di Prancis sebagai seorang Sramanera.

Zaim tidak terlalu detail menceritakan prosesi spiritualnya di Plum Village tetapi lebih menceritakan hal-hal teknis. Saya menduga mungkin karena pengalaman spiritual tidak akan mampu digambarkan melalui kata-kata.

Saya cukup salut kepada Zaim yang berani mengambil keputusan masuk sangat dalam ke ajaran agama lain namun tetap menganut agama lamanya. Di awal, dia sudah sangat yakin bahwa suatu saat dia akan kembali ke jalan. Perjalanan mempelajari agama Budha hanya sebagai cara lain memperkuat keyakinannya. Tentu pro kontra tetapi saya sendiri tentu tidak punya keberanian terperosok lebih dalam meskipun saya sangat ingin mendalami meditasi. Pilihan kelompok meditasi bernuansa Islam mungkin lebih baik.

Saya yakin bahwa konsep meditasi bukan hal eksklusif di Budha karena di setiap agama pun ada ajaran bagaimana kemudian memahami diri dan sadar akan diri, terjaga setiap waktu.


Buku 2026 (1)

Buku pertama yang berhasil saya tamatkan awal tahun adalah novel dikemas sebagai catatan perjalanan, atau mungkin memang catatan perjalanan. Buku yang saya beli secara random saat acara Out of the Boox Warehouse Sale 2025 di gudang Mizan, Serua, Depok. Buku yang saya beli hanya karena harganya yang cukup murah dan di salah satu babnya tertulis Enrekang.

Judul                     : Crossroad, Tentang Road Trip. Toraja. Dan Pilihan Hati
Penulis                  : Rossa Indah
No. ISBN              : 9786021637234
Penerbit                 : Mizan 
Tanggal terbit        : Maret - 2014
Text Bahasa           : Indonesia 

Buku ini bercerita tentang seorang perempuan karir yang senang plesiran untuk menghabiskan masa liburannya. Ada momen libur panjang di bulan Mei, dia berniat mengajak adiknya liburan bersama namun adiknya sedang sibuk-sibuknya melamar pekerjaan karena baru lulus sarjana. Akhirnya dia dipertemukan dengan takdir liburan ke Makassar, liburan yang impulsif menurutnya.

Dia terbang ke Makassar dengan perasaan masih setengah hati karena tidak yakin dengan keputusannya, hanya Teddy, temannya yang sedang dimutasi ke Makassar, meyakinkannya. Itulah kenapa Rossa masih tidak merasa yakin menghabiskan uang untuk liburan ke Makassar.

Perjalanan cerita dimulai ketika Rossa tiba di Makassar dan dijemput oleh Teddy. Berbekal mobil Vios pinjaman bosnya, Teddy dengan pedenya mengajak Rossa liburan ke Toraja selama empat hari. Mobil sedan yang sangat tidak meyakinkan untuk diajak berkelana ratusan km dari Makassar ke Toraja dengan jalanan yang cukup menantang, namun mereka berdua belum pernah ke sana jadi sama sekali tidak tahu bagaimana perjalanan yang harus ditempuh.

Mereka benar-benar menikmati perjalanan ke Toraja dengan mengunjungi setiap tempat wisata di beberapa spot salah satunya di Bantimurung. Setelah itu, mereka melanjutkan perjalanan panjang ke Toraja dengan berbagai cerita tentang hidup, mimpi, kenangan, dan dinamika cerita hidup lainnya. Rossa lebih banyak bercerita sementara Teddy setiap waktu harus tetap fokus menyetir.

Perjalanan sampai di Pare-Pare masih terbilang mulus, selain karena jalanannya mulus karena merupakan jalanan Provinsi, jalurnya pun lurus tanpa banyak belokan. Mereka menemui tantangan ketika sudah masuk di Pare-Pare, salah ambil jalan, mereka bisa kesasar. Jika mengambil jalan lurus, akan tiba ke arah Sulawesi Barat. Jika belok terus ke kanan arah Sidrap jalur ke Wajo, mereka akan kesasar pun akan kesasar. 

Jalur ini memang cukup membingungkan bagi orang baru. Pada saat itu, google maps belum begitu presisi makanya tidak bisa terlalu diandalkan. Teddy yang sudah beberapa bulan di Makassar menggunakan sedikit logat Makassar yang dia pahami untuk bertanya pada masyarakat lokal.

Akhirnya mereka berhasil ke arah yang benar meskipun setiba di daerah Enrekang, jalanan cukup menantang. Menanjak dan berbelok tajam. Posisi badan belum tegap setelah belok kiri, namun belokan ke kanan sudah menanti. Begitu terus sampai akhirnya tiba di perbatasan Enrekang-Toraja.

Cerita mereka kemudian seputar tempat wisata di Toraja dengan penggambaran yang kurang begitu detail. Mungkin karena penulis juga tidak terlalu jauh mengeksplor daerah Toraja sehingga kekurangan informasinya yang akurat.

Cerita mereka dibumbuhi dengan perselingkuhan tipis-tipis. Rossa dan Teddy bersepakat menjadi HTS selama empat hari meskipun Teddy sudah memiliki wanita lain, Dewi. Keputusan yang mereka buat ternyata menyisakan perih karena saat perpisahan tiba, mereka harus menenggelamkan diri dalam perasaan yang campur aduk, sedih, patah hati, merasa bersalah, dan berbagai perasaan lain.

Novel ini tentu cukup simpel hanya saja karena saya begitu merindukan Enrekang maka saya sangat menikmatinya apalagi ketika tiba pada cerita tentang bagaimana berjuang melewati jalanan di Enrekang. Sungguh sangat rindu pada suasananya.

Januari 26

Friday, October 31, 2025

Catatan Dari Bawah Tanah

Membaca novel Fyodor Dostoevksy yang berjudul "Catatan dari Bawah Tanah" membuat saya berkali-kali membayangkan apa yang ada di kepala si Penulis ketika mengeja kata demi kata. Terus terang, ini bukan novel yang sulit tetapi juga bukan novel yang mudah untuk dipahami. Bukan semacam novel modern yang alurnya bisa ditebak dan kesimpulannya yang berakhir pada Kebahagiaan atau kesedihan.

Di awal-awal halaman, saya begitu sangat bergairah membaca buku ini karena Fyodor menulis perasaannya yang sebagian saya rasakan juga tetapi kita jarang sekali jujur kepada diri sendiri. Tulisan tentang bagaimana dia menjadi seorang pegawai dan motif apa yang ada dibalik setiap tindakannya.

Fyodor menulis dengan lantang "AKU ORANG SAKIT," tentu bukan sakit fisik tetapi pada masalah eksistensial yang dia rasakan. Dia mengaku seorang pendendam dan merasa bukanlah orang yang menarik. Namun layaknya orang yang sedang berada pada fases kelelahan eksistential, dia tidak pernah berniat mengunjungi dokter untuk sekadar membicarakan masalahnya. Setidaknya dia jujur akan segala hal yang dia rasakan.

Dia menghentakkan lagi ceritanya di bab kedua dengan narasi bahwa berkali-kali dia ingin menjadi seekor Serangga tetapi tetapi tidak bisa. 
Kenapa Serangga? Entahlah. Namun siapun dari kita pasti pernah berpikir setidaknya sekali dalam seumur hidup bahwa kenapa saya tidak diciptakan saja dalam bentuk yang lain selain manusia agar semua persoalan hidup segera lenyap.
Nah Fyodor kemudian mengakui bahwa terlalu sadar berupakan penyakit yang sangat parah. Tentu maksudnya di sini adalah kesadaran sebagai manusia akan banyak hal. Kesadaran yang pada akhirnya melahirkan berbagai rasa tanggung jawab akan hidup, maka dengan menjadi Serangga semua perasaan bertanggung jawab akan musnah.
Dia melanjutkan bahan reflektifnya bahwa antitesis dari manusia normal adalah manusia dengan kesadaran yang tajam. Pada poin ini, Fyodor merasa bahwa mayoritas manusia memiliki kesadaran palsu akan hidup yang dijalani, layaknya kehidupan yang mekanik.
Pada bagian lain, Fyodor menulis bahwa dalam setiap fase kehidupan bahkan penderitaan sekalipun, selalu ada kenikmatan. Sakit gigi contohnya. Meskipun rasa yang ditimbulkan lumayan menyiksa namun ketika mereka mengerang sakit maka di situlah kenikmatannya. Seandainya saja ketika orang yang sakit gigi tidak merasa nikmat ketika mengerang maka tentu dia tidak akan mengerang. Oh ya, bahkan mungkin kita tidak mengerang artinya manusia menemukan kenikmatan dalam diamnya ketika sakit gigi.
Pemberontakan Fyodor terhadap zaman pada saat dia hidup begitu terasa dalam tulisan-tulisannya di buku ini. Dia menyadari bahwa semakin manusia dianggap beradab maka semakin mereka menjadi pembantai yang licik. Fyodor hidup sebelum perang dunia tetapi dari sejarah, dia menyadari bahwa perkembangan zaman akan diiringi dengan tindakan manusia menghancurkan manusia lain dengan sangat bengis.
Katanya, telah membuat manusia, kalau tidak lebih haus dara, paling tidak lebih keji, lebih dahaga secara menjijikkan. Maka seharusnya akan dan ilmu pengetahuan sepenuhnya mendidik ulang sifat manusia dan mengubahkan ke arah yang normal. Pada poin ini, Fyodor berani mengatakan bahwa definisi terbaik manusia adalah makhluk berkaki dua yang tidak tahu terima kasih, entahlah mungkin dalam segala hal.
Ada yang cukup menarik dari apa yang dikatakan Fyodor bahwa berikan manusia kemakmuran ekonomi, sehingga dia tidak punya hal lain untuk dilakukan selain tidur, makan kue, menyibukkan diri dengan melanjutkan keturunan, bahkan kemudian lantaran sifatnya yang tidak teirma kasih, pendengki, manusia akan mempermainkanmu dengan akal bulus nan keji.
Pada akhirnya, ketika manusia tidak menemukan jalan keluar, dia akan menciptakan kehancuran dan kekacauan, menciptakan segala macam penderitaan, supaya dapat mencapai tujuan.

Thursday, August 15, 2024

Revolusi Harapan

Erich Fromm menulis buku ini dengan intensi untuk menemukan solusi atas keadaan Amerika Serikat sekitar tahun 1968.  Solusi yang dia maksudkan merupakan refleksi dari bantuan akal dan kecintaan manusia terhadap kehidupan, bukan didasarkan pada irasionalitas serta kebencian.

Erich memplesetkan kalimat Marx yang sangat terkenal dengan mengatakan bahwa hantu menguntit kita yang merupakan hantu baru yaitu masyarakat yang termekanisasi secara lengkap, tunduk pada output materi dan konsumsi maksimal, diarahkan oleh komputer.

Saat ini, umat manusia tidak lagi memiliki tujuan kecuali memproduksi dan mengkonsumsi lebih dan lebih lagi. Ini kenyataan yang tidak bisa disangkal karena semua energi kita dihabiskan untuk mencapai tujuan menjadi produsen dan konsumen. Kebijakan-kebijakan yang diterapkan pun semata untuk mendukung produksi dan konsumsi yang maksimal. Indikator paling jelas adalah kemajuan sebuah negara diukur dengan tingkat pertumbuhan ekonomi.

Umat manusia dianggap telah sampai pada titik yang luar biasa dengan memenangi pertarungan kehidupan tetapi pada akhirnya, manusia menjadi tawanan bagi ciptaannya sendiri dan berada dalam mara bahaya yang menghancurkan diri sendiri. Tidak sulit untuk mengedepankan contoh pada kasus ini. Lihatlah bagaimana manusia modern terperangkap dalam penjara gadget yang mengurung kebebasan mereka.

Demikianlah Erich mengatakan bahwa jika teknologi diizinkan untuk mengikuti logikanya sendiri, maka ia akan tumbuh seperti kanker, akhirnya mengancam sistem terstruktur kehidupan individu dan sosial.

Sekarang, manusia tidak lagi tertarik terhadap ide abstrak termasuk ide dan konsep yang reflektif. Erich menganggap bahwa ideologi telah kehilangan sifat menariknya. klise konvensional semacam kanan, kiri, kapitalisme, komunisme, sudah tidak lagi menjadi hal pokok dalam setiap diskusi karena telah kehilangan maknanya.

Erich mengajukan pertanyaan retoris, apakah berharap itu? 

Berharap adalah state of being. Harapan adalah unsur instrink bagi struktur kehidupan bagi dinamika jiwa manusia. Unsur lain yang terkait dengan harapan adalah keberanian.

Ada dua hal penting mengenai tidak takut. Pertama, seorang bisa tidak punya rasa takut karena ia tidak peduli pada hidup. Kedua, perasaan tidak takut ditemukan dalam diri orang yang telah berkembang secara penuh yang telah ada ketenangan dalam dirinya dan telah mencintai kehidupan. Orang yang telah mengatasi kserakahan tidak terikat pada berhala apa pun atau sesuatu apa pun sehingga dia tidak akan kehilangan apa pun.

Setiap waktu kita bertumbuh. Setiap tindakan mencintai, mawas diri, kasih sayang merupakan kebangkitan kembali. Setiap tindakan malas, serakah, dan mementingkan diri sendiri merupakan kematian.

Perilaku manusia dalam masyarakat masa kini, kebutuhan manusia akan kepastian. Faktanya manusia lebih baik membuat keputusan yang "salah" tetapi yakin atasnya daripada keputusan yang "benar" tetapi kemudian tersiksa oleh keraguan atas keabsahannya.

Kategori kategori pikiran dalam era industrial adalah kuantifikasi, abstraksi, dan perbandingan, keuntungan dan kerugian, efisiensi dan inefisiensi.

Setiap orang membawa dalam dirinya seluruh kemanusiaan; bahwa dalam diri kita masing-masing, kita adalah Santo dan kriminal. Tidak ada manusia yang membawa kebenaran absolut jadi jangan sesekali merasa paling benar karena hakikatnya, manusia selalu berada dalam dua kepribadian, hitam dan putih.

Pengalaman manusia lain adalah tanggung jawab. Sudah sejak lama tanggung jawab kehilangan maknanya karena diasosiasikan dengan kewajiban. Padahal, kewajiban merupakan konsep dalam ranah ketidakbebasan sedangkan tanggung jawab adalah konsep wilayah kebebasan. Perbedaannya berkaitan dengan perbedaan antara nurani otoritarian dan humanistik.

Terkait pendidikan, bagaimana pendidikan kita bisa meningkatkan kapasitas para siswa dalam berpikir kritis, alih-alih membuatnya menjadi konsumen informasi. Maka dalam setiap dialog yang membuahkan hasil, masing-masing peserta harus menolong peserta lain memperjalas pikirannya, alih-alih memaksakan mempertahankan perumusan tentang apa yang ia sendiri mungkin ragu atasnya.

Ketika aku mencintai seseorang, aku tidak hanya mencintai orang itu saja tetapi mencintai kemanusiaan itu sendiri. Ini mungkin relevan dengan ajaran Islam yang mengajak manusia mencintai manusia lain sebagai ciptaan Allah.

Pertanyaan selanjutnya bahwa kenapa setelah memilih apa yang bisa diinginkan, kita tidak bisa bahagia, kesepian dan gelisah.

Monday, June 19, 2023

Senjakala Modernitas


Penulis                    : Irfan Afifi

Penerbit                    : Ircisod

Tahun Terbit             : 2019

Halaman                    : 200           




Modernitas sebagai sebuah arus besar kebudayaan dan pola pikir yang bersandar pada ide aufklarung. Perdebatan tentang kapan era modernitas dimulai memang muncul di beberapa kalangan namun secara umum, modernitas diidentikkan dengan zaman pencerahan yang dimulai sejak renaissance dan reformasi gereja. Sementara post-modernisme pada dasarnya merupakan kritik atas cacat yang ditimbulkan dalam diri modernitas. kekecewaan atas prinsip universalisme menciptakan totalitarianisme.

Habermas setia mempertahankan ide-ide dan proyek modernitas beserta rasionalitasnya dalam menghadapi serangan kaum post-modern maupun kalangan lain karena menurutnya bahwa kritik yang diarahkan kepada modernitas bersifat parsial dan mengesampingkan aspek emansipatif proyek rasionalitas pencerahan sehingga kritik yang diarahkan pada modernitas sifatnya total dan radikal sehingga kritik berujung pada negasi total modernitas dan rasionalitasnya.

Menurut Habermas bahwa kritik tidak seharusnya bersifat total. Menurut Habermas bahwa krisis dalam modernitas berpangkal pada konsep otonomi subjek rasional yang dikembangkan oleh Descartes sampai Kant sebagai humanisme barat. Poin inilah yang dipandang para post-modern sebagai akar budaya modern yang telah bangkrut.


Wednesday, June 14, 2023

Sebelum Filsafat


Judul            : Sebelum Filsafat
Penulis          : Fahrudin Faiz
Penerbit        : MJS Press
Tahun            : 2018
Halaman        : 210 








Sebelum filsafat adalah buku yang penting dibaca oleh para akademisi bahkan masyarakat umum. Buku ini bukan seperti buku filsafat yang njlimet. Ada begitu banyak pola berpikir yang saya dapatkan dari buku ini termasuk ketika sedang membaca dan menulis. 

Saya akan mengutip dan menyalin beberapa poin penting dari buku untuk sekadar mengingatkan saya inti dari buku yang sedang saya baca. Mungkin untuk bagian pembahasan filsafat tidak akan banyak saya uraikan namun lebih pada poin-poin yang bersifat umum saja.

Menurut pak Faiz, hidup secara bijaksana adalah hidup dalam kondisi dan posisi yang pas.

Ada lima instrumen pengetahuan yang dijelaskan oleh pak Faiz dan kelima instrumen tersebut harus digunakan sesuai konteksnya. 

Selanjutnya, jika ingin memperkuat dasar dalam ilmu pengetahuan, bacalah buku ini.


Ya'qub bin Ishaq Al-Kindi

Filsafat Parepatik semacam cara berfilsafat Aristotels dan murid-muridnya. Ajaran aristoteles disebarkan oleh murid-muridnya, salah satunya yang menyebarkan adalah Alexander the Great (Iskandar Zulkarnain) yang selanjutnya dikenal sebagai helenisme yang berpusat di Alexandria (Iskandariyah), daerah Mesir yang sekarang jadi kota Pelabuhan. Helenisme kemudian diwarisi filsuf Muslim antara lain Al-Kindi, AL Farabi, Ibnu Sina dkk.

Setelah itu, filsafat Peripatetik kemudian bergerak ke Barat. Dalam tradisi filsafat kristen, ada yang dikenal Thomisme yang dipelopori oleh Thomas Aquinas, biasanya disebut filsafat latin. Latin adalah bahasa resmi kekaisaran Romawi.

Sekitar tahun 801-873 M, lahir seorang filsuf yang dikenal sebagai bapak filsuf Arab pertama, Ya'qub bin Ishaq Al-Kindi, putra gubernur Kufa. Menguasai begitu banyak bidang keilmuan. Hidup ketika masa kejayaan Islam pada zaman dinasti Abbasiyah. Hal yang mempengaruhi pemikiran Al-Kindi yaitu Mu'tazilah (cara berpikir rasional), Aristoteles, dan Plotinus.

Menurut Al-Kindi, filsafat adalah ilmu tentang hakekat (kebenaran) sesuatu menurut kesanggupan manusia, yang mencakup ketuhanan, Keesaan, ilmu keutamaan, dan ilmu tentang semua yang berguna dan cara memperolehnya, serta menjauhi perkara yang merugikan.

Tujuan seorang filosof bersifat teori yaitu kebenaran dan bersifat amalan yaitu mewujudkan kebenaran tersebut dalam tindakan. 

Buku 2026 (2)

Buku kedua yang saya lumat selama seharian di Januari 2026 adalah buku perjalanan spiritual Mohammad Zaim. Buku tentang perjalanan panjang t...