Buku pertama yang berhasil saya tamatkan awal tahun adalah novel dikemas sebagai catatan perjalanan, atau mungkin memang catatan perjalanan. Buku yang saya beli secara random saat acara Out of the Boox Warehouse Sale 2025 di gudang Mizan, Serua, Depok. Buku yang saya beli hanya karena harganya yang cukup murah dan di salah satu babnya tertulis Enrekang.
Buku ini bercerita tentang seorang perempuan karir yang senang plesiran untuk menghabiskan masa liburannya. Ada momen libur panjang di bulan Mei, dia berniat mengajak adiknya liburan bersama namun adiknya sedang sibuk-sibuknya melamar pekerjaan karena baru lulus sarjana. Akhirnya dia dipertemukan dengan takdir liburan ke Makassar, liburan yang impulsif menurutnya.
Dia terbang ke Makassar dengan perasaan masih setengah hati karena tidak yakin dengan keputusannya, hanya Teddy, temannya yang sedang dimutasi ke Makassar, meyakinkannya. Itulah kenapa Rossa masih tidak merasa yakin menghabiskan uang untuk liburan ke Makassar.
Perjalanan cerita dimulai ketika Rossa tiba di Makassar dan dijemput oleh Teddy. Berbekal mobil Vios pinjaman bosnya, Teddy dengan pedenya mengajak Rossa liburan ke Toraja selama empat hari. Mobil sedan yang sangat tidak meyakinkan untuk diajak berkelana ratusan km dari Makassar ke Toraja dengan jalanan yang cukup menantang, namun mereka berdua belum pernah ke sana jadi sama sekali tidak tahu bagaimana perjalanan yang harus ditempuh.
Mereka benar-benar menikmati perjalanan ke Toraja dengan mengunjungi setiap tempat wisata di beberapa spot salah satunya di Bantimurung. Setelah itu, mereka melanjutkan perjalanan panjang ke Toraja dengan berbagai cerita tentang hidup, mimpi, kenangan, dan dinamika cerita hidup lainnya. Rossa lebih banyak bercerita sementara Teddy setiap waktu harus tetap fokus menyetir.
Perjalanan sampai di Pare-Pare masih terbilang mulus, selain karena jalanannya mulus karena merupakan jalanan Provinsi, jalurnya pun lurus tanpa banyak belokan. Mereka menemui tantangan ketika sudah masuk di Pare-Pare, salah ambil jalan, mereka bisa kesasar. Jika mengambil jalan lurus, akan tiba ke arah Sulawesi Barat. Jika belok terus ke kanan arah Sidrap jalur ke Wajo, mereka akan kesasar pun akan kesasar.
Jalur ini memang cukup membingungkan bagi orang baru. Pada saat itu, google maps belum begitu presisi makanya tidak bisa terlalu diandalkan. Teddy yang sudah beberapa bulan di Makassar menggunakan sedikit logat Makassar yang dia pahami untuk bertanya pada masyarakat lokal.
Akhirnya mereka berhasil ke arah yang benar meskipun setiba di daerah Enrekang, jalanan cukup menantang. Menanjak dan berbelok tajam. Posisi badan belum tegap setelah belok kiri, namun belokan ke kanan sudah menanti. Begitu terus sampai akhirnya tiba di perbatasan Enrekang-Toraja.
Cerita mereka kemudian seputar tempat wisata di Toraja dengan penggambaran yang kurang begitu detail. Mungkin karena penulis juga tidak terlalu jauh mengeksplor daerah Toraja sehingga kekurangan informasinya yang akurat.
Cerita mereka dibumbuhi dengan perselingkuhan tipis-tipis. Rossa dan Teddy bersepakat menjadi HTS selama empat hari meskipun Teddy sudah memiliki wanita lain, Dewi. Keputusan yang mereka buat ternyata menyisakan perih karena saat perpisahan tiba, mereka harus menenggelamkan diri dalam perasaan yang campur aduk, sedih, patah hati, merasa bersalah, dan berbagai perasaan lain.
Novel ini tentu cukup simpel hanya saja karena saya begitu merindukan Enrekang maka saya sangat menikmatinya apalagi ketika tiba pada cerita tentang bagaimana berjuang melewati jalanan di Enrekang. Sungguh sangat rindu pada suasananya.
Januari 26

No comments:
Post a Comment