Sunday, August 7, 2022

Kitalah yang ada di Sini Sekarang

Jostein Gaarder adalah pengarang yang sangat populer dengan karya yang cukup monumental "Dunia Spohie." sebuah buku mampu membumikan filsafat sehingga dapat dinikmati selayaknya novel remaja. Novel yang kemudian mampu merunut cara kerja filsafat dalam hidup kita sehari-hari.

selain novel Dunia Sophie, ada dua karya Jostein Gaarder yang saya baca yaitu "Dunia Anna" dan "Kitalah yang ada di Sini Sekarang." buku yang terakhir saya beli di Gramedia Penvil minggu lalu (30/7/22). Buku yang sebenarnya tidak terlalu tebal untuk sekali dibaca dalam satu kesempatan, namun karena saya terlalu baca pemakluman atas distraksi yang sebenarnya tidak penting sehingga buku tersebut tertunda untuk segera saya tuntaskan.

Nuansa buku ini sangat kental dengan idealisme Jostein sebagai seorang yang peduli terhadap lingkungan. Dimulai dengan bab yang diberi judul "Dunia yang Penuh Keajaiban." Jostein seakan ingin menyampaikan ide tentang dunia ini yang pada sebagian orang dianggap sebagai hal yang normal namun kemudian dia sendiri bertanya "dari mana dunia ini berasal?"

pada bab-bab selanjutnya, Jostein menggambarkan bahwa bagaimana kedekatannya dengan alam dan bagaimana dia sangat engage dengan alam. "Aku selalu menyukai berjalan-jalandi hutan, terutama saat sedang ada persoalan yang akan kupecahkan." kalimat ini mengafirmasi bagaimana Jostein menempatkan alam sebagai sebuah ruang yang kemudian memberikan dia segala hal yang dibutuhkan hanya dengan sekadar berjalan di tengah hutan. Misteri kehidupan ini sama sekali belum terkuak bahwa sebuah fenomena tidak bisa dideteksi tidak berarti bahwa fenomena itu tidak ada.

Pada bab tentang hal-hal supranatural, Jostein menekankan bahwa kemanusiaan di atas segalanya termasuk agama. bahwa manusia dulu dan Kristen kemudian atau manusia dulu dan Muslim kemudian. jadi yang menjadi esensi adalah pertama-tama kita semua bersaudara dalam kemanusiaan. sama halnya manusia dulu dan ateis kemudian karena bahkan orang ateis yang menggebu-gebu juga bisa bersikap intoleran dan "tidak manusiawi. Dalam soal kepercayaan, tidak ada yang punya kunci jawabannya. Jostein mengafirmasi bahwa "apapun yang akan kita yakini atau percayai, yang penting untuk diingat adalah dia tas semua itu kita adalah manusia."

Pada bab Ruang dan Waktu, Jostein memastikan bahwa alam semesta sangat dinamis sehingga mempertanyakan bentuk alam semesta secara keseluruhan tepat pada saat itu adalah sebuah kesia-siaan. Alam semesta sama sekali tak punya "tepat pada saat itu." segala yang terjadi di alam semesta, atau sedang terjadi, semuanya berlangsung dalam kecepatan cahaya. Bintang-bintang terus saling bergerak menjauh dengan kecepatan tinggi. 

Nilai etika dan moral sangat kental pada bab "Kapasitas Planet Bumi." Jostein mengelaborasi bahwa beberapa pertanyaan filsuf sudah terjawab misalnya apa unsur-unsur makhluk hidup yang kemudian ditemukan jawabannya yaitu molekul DNA namun masih banyak permenungan filsuf yang belum selesai seperti Apa nilai terpenting dalam hidup? apakah keadilan itu? Bagaimana bentuk pengaturan masyarakat yang baik? namun ada satu pertanyaan yang sangat penting adalah "bagaimana kita bisa menjaga peradaban manusia dan dasar-dasar kehidupan di planet kita ini?


Saturday, July 23, 2022

Covid-19 Shake the World

By. Slavoj Zizek

Hegel wrote that the only thing we can learn from history is that we learn nothing from history, so I doubt the epidemic will make us any wiser. The only thing that is clear is that the virus will shatter the very foundations of our lives, causing not only an immense amount of suffering but also economic havoc conceivably worse than the Great Recession.

we must recognize that, sometimes, not telling the entire truth to the public can effectively prevent a wave of panic that could lead to more victims.

The really difficult thing to accept is the fact that the ongoing epidemic is a result of natural contingency at its purest, that it just happened and hides no deeper meaning. In the larger order of things, we are just a species with no special importance.

Martin Luther King put it more than half a century ago: “We may have all come on different ships, but we’re in the same boat now.

Byung-Chul Han "Driven by the demand to persevere and not to fail, as well as by the ambition of efficiency, we become committers and sacrificers at the same time and enter a swirl of demarcation, self-exploitation and collapse. When production is immaterial, everyone already owns the means of production him- or herself. The neoliberal system is no longer a class system in the proper sense. It does not consist of classes that display mutual antagonism. This is what accounts for the system’s stability.” Han argues that subjects become self-exploiters: “Today, everyone is an auto-exploiting labourer in his or her own enterprise. People are now master and slave in one. Even class struggle has transformed into an inner struggle against oneself.” The individual has become what Han calls “the achievement-subject”; the individual does not believe they are subjugated “subjects” but rather “projects: Always refashioning and reinventing ourselves” which “amounts to a form of compulsion and constraint—indeed, to a more efficient kind of subjectivation and subjugation. As a project deeming itself free of external and alien limitations, the I is now subjugating itself to internal limitations and self-constraints, which are taking the form of compulsive achievement and optimization."

We are bombarded by calls to work from home, in safe isolation. But which groups can do this? Precarious intellectual workers and managers who are able to cooperate through email and teleconferencing, so that even when they are quarantined their work goes on more or less smoothly. They may gain even more time to “exploit ourselves.” But what about those whose work has to take place outside, in factories and fields, in stores, hospitals and public transport? Many things have to take place in the unsafe outside so that others can survive in their private quarantine.

last but not least, we should avoid the temptation to condemn strict self-discipline and dedication to work and propagate the stance of “Just take it easy!”—Arbeit macht frei! (“Work sets you free”) is still the right motto, although it was brutally misused by the Nazis. Yes, there is hard exhaustive work for many who deal with the effects of the epidemics—but it is a meaningful work for the benefit of the community which brings its own satisfaction, not the stupid effort of trying to succeed in the market. When a medical worker gets deadly tired from working overtime, when a caregiver is exhausted by a demanding charge, they are tired in a way that is different from the exhaustion of those driven by obsessive career moves. Their tiredness is worthwhile.


Glossaries:

discernible (Visible). Proximity (Closeness). Corporeal (Bodily,pysical). injuction (ruling, order).  protract (continuous). exert (use). impenetrable (unpassable). cadres (kader). undermine (ruin, harm). denounce (criticize, blame). imposture (fraud, deceit). blistering (inveigh, kritik keras). annihilate (destroy). compell (force). retain (hold, keep). onslaught (serangan gencar). slain (killed). lethal (deadly). ruthless (cruel). prevail (dominate). predicament (kondisi sulit). debilitating (weaken). seduce (persuade, tempt). precarious (critical). deceptive (bersifat menipu). 

Saturday, March 5, 2022

Studi dan Teori Hubungan Internasional

Judul             : Studi & Teori Hubungan Internasional (Arus Utama, Alternatif dan Reflektif)

Penulis          : Bob Sugeng Hadiwinata

Penerbit         : Yayasa Pustaka Obor Indonesia

Tahun            : 2017

Buku ini terdiri dari 4 bagian dan 12 bab.

Bab 1 mengelaborasi mengenai studi hubungan internasional sebagai sebuah disiplin ilmu. Perbedaan ilmu HI yang berkembang di Inggris dan di AS. Tradisi berpikir di Inggris cenderung historis-filosofis sedangkan tradisi berpikir AS sangat saintifik-positivistik. HI yang berkembang di Inggris dari akar filsafat sedangkan di AS serikat berangkat dari ilmu politik. Pada perkembangannya, perspektif Inggris lebih mengutamakan historical tracing  sedangkan AS berkarakter saintifik yang positifistik. Perbedaan akar sejarah perkembangan HI di kedua negara tersebut juga berdampak pada terminologi yang digunakan. di Inggris sering menggunakan istilah "studi hubungan internasional" sedangkan AS menggunakan "Ilmu hubungan internasional".

Perkembangan ilmu HI kemudian melahirkan beberapa teori yang digunakan dalam proses identifikasi fenomena yang terjadi. kegunaan teori HI sekurang-kurangnya menyangkut 3 hal: (1) to describe. (2) to explain. (3) to predict

Secara umum, ilmu HI yang berkembang di seluruh dunia saat ini mengandung perspektif krusial:
  1. Perspektif Inggris, 1919-sekarang: Metode historis/tradisionil; liberalisme/idealisme, english school (realisme/Hobbes, rasionalisme/Grotius, idealisme/Kant), Critical Theory (Linklater)
  2. Perpektif Amerika Serikat;1940-sekarang: metode saintifik/Positivis; realisme/neo-realisme, neo-liberal institusionalisme, kajian politik ekonomi internasional
  3. Perspektif Skandinavia: 1970-sekarang: Metode historis interpretatif, studi konflik dan perdamaian, teori Sekuritisasi dan keamanan non-Tradisional (Copenhagen School)
  4. Eropa Daratan/Perancis, Jerman: 1990an-sekarang: metode hermeneutika-interpretatif, Posmodernisme, teori Konstruktivisme (Friedrich Kratochwil, Nicolas Onuf, dan Alexander Wendt)
Bab 2 menjelaskan tentang sejarah perkembangan HI di Indonesia yang sangat dipengaruhi oleh perspektif AS. HI sebagai cabang ilmu di Indonesia berawal pada era 1950-an tepatnya pada tanggal 10 Juli 1957, didirikan departemen hubungan internasional di universitas Gajahmada. HI yang berkembang di universitas Gajahmada sangat bercorak AS karena peran pakar HI universitas John Hopkins yang menyusun kurikulum HI yang diketuai prof. Donald Weatherbee.

Bab 4 menjelaskan perdebatan besar dalam studi HI. Perdebatan besar pertama terjadi pada dekade 1940-an ketika dunia menghadapi tantangan besar akibat kegagalan liga bangsa-bangsa dalam menegakkan perdamaian dunia pasca Perang Dunia I (1914-1919). Saat itu, pemikir realisme seperti E.H Carr dan Morghentau melakukan serangan terhadap pemikir idealis seperti Alfred Zimmern, Normal Angell

Perdebatan kedua terjadi pada dekade 1960an ketika sejumlah pemikir HI seperti Morton A Kaplan dan Karl Deutsch, Kenneth Waltz menyadari pentingnya penerapan metode saintifik yang memfokuskan pada objektivitas penelitian dan penerapan metode ilmiah yang mengacu pada pencarian hubungan antara variabel penelitian, pengujian teori dan validasi data dalam HI untuk menjadikan studi HI sebagai disiplin ilmu yang memenuhi karakter ilmiah. Upaya tersebut mendapat resistensi dari kaum historis atau tradisionalis misalnya Hedley Bull yang menyatakan bahwa metode historis yang lebih menekankan pada sekuensi sejarah adalah metode yang paling tepat bagi studi HI.

Perdebatan besar ketiga tejadi sejak 1970an tampak lebih kompleks daripada perdebatan sebelunya. perdebatan ketika merupakan perdebatan post positivis (teori reflektivitas, teori kritis, feminisme, posmodernisme dan konstruktivisme berhadapan dengan positivis empiris (neo-realisme dan neo liberalisme)


Abstraksi

 Universitas Paramadina

Program Studi : Diplomasi

Tahun Lulus : 2022

NIM          : 219131002

Judul              : Memahami Fenomena Normalisasi Hubungan Diplomatik Negara – Negara Muslim Timur Tengah dengan Israel dan Implikasinya terhadap Prospek Kemerdekaan Palestina (2019-2021)

Jumlah Halaman : 133 + x halaman


Penelitian ini mengkaji proses terjadinya normalisasi hubungan diplomatik antara negara-negara Muslim Timur Tengah dengan Israel dan implikasinya terhadap usaha perjuangan kemerdekaan bangsa Palestina. Penulis menggunakan paradigma konstruktivisme dalam menganalisis sikap negara-negara Timur Tengah terhadap eksistensi Israel dan perjuangan bangsa Palestina. Keputusan politik yang ditempuh oleh negara-negara Muslim Timur Tengah berdamai dengan Israel, dianggap sebagai keputusan yang anomali sementara Israel terus melakukan pendudukan di wilayah Palestina. 

Proses normalisasi hubungan diplomatik negara-negara Muslim Timur Tengah tidak terjalin secara alamiah sebagaimana argumen realisme dan liberalism. Pra-kondisi normalisasi hubungan diplomatik tersebut sudah terjalin jauh sebelum diformalisasikan pada tahun 2020. Amerika Serikat memiliki peran yang sangat signifikan dalam membawa perdamaian antara negara-negara Timur Tengah dengan Israel. 

Dalam realitas politik, dapat disaksikan bahwa terdapat bantuan ekonomi dan militer dari Amerika Serikat dan Israel kepada negara-negara Timur Tengah namun jika dielaborasi lebih dalam, maka ditemukan fakta bahwa normalisasi tidak sekedar sebuah realitas yang disaksikan tetapi juga terdapat nilai bersama. Negara-negara Muslim Timur Tengah, Amerika Serikat, dan Israel sepakat bahwa ancaman di kawasan berasal dari Iran yang semakin dominan. Perspektif konstruktivisme juga digunakan penulis untuk menjelaskan bagaimana konsep ancaman Timur Tengah telah bertransformasi yang sebelumnya berasal dari Israel dan Amerika Serikat kemudian berubah menjadi ancaman dari Iran.

Pada akhirnya, normalisasi tersebut membawa dampak negatif terhadap usaha perjuangan bangsa Palestina karena negara-negara Muslim Timur Tengah semakin meninggalkan usaha perjuangan Palestina. Normalisasi yang terjadi juga sebagai simbol kemenangan diplomasi Israel dan normalisasi akan mengubah narasi tentang perjuangan bangsa Palestina pada generasi mendatang. 


Kata Kunci : Normalisasi, Konstruktivisme, Timur Tengah, Kemerdekaan Palestina

Daftar Pustaka : 109 literatur, 1978-2021

14 Februari 2022

Saturday, February 27, 2021

Hukum Humaniter dan Hak Asasi Manusia

The distinction between human rights and humanitarian affairs. Legally and traditionally speaking, human rights pertains to fundamental personal rights in peace, and humanitarian affairs pertains to protecting and assisting victims of war and other victims in exceptional situations (David P. Forsythe, 2016:ix)

Hak Asasi Manusia berbicara tentang hak dasar yang given dalam diri setiap individu misalnya ekonomi, politik, sosial, budaya dll. 

Hukum Humaniter meliputi Hukum Jenewa yang mengatur tentang terlindungan terhadap korban peperangan dan hukum Den Haag yaitu mengatur tentang batasan dalam perang misalnya alat yang digunakan dan mekanisme perang itu sendiri. Hukum HAM sendiri eksis pada saat keadaan damai misalnya setiap individu harus terlindungi dari abuse of power Pemerintah. 

Hukum HAM berlaku pada saat keadaan damai sedangkan hukum Humaniter berlaku dalam keadaan perang. meskipun demikian, kaidah dasar HAM tetap harus ada saat keadaan perang. 

Universal Declaration of Human Rights 1948 tidak menyinggung tentang HAM dalam keadaan perang. konvensi Jenewa tidak menyinggung HAM 


Sunday, February 14, 2021

International Relations (PART TWO - GLOBAL ISSUES)


Judul : International Relations

Edited by : Stephen McGlinchey

Halaman : 209

Cetakan : 2017

ISBN 978-1-910814-17-8 (paperback)

ISBN 978-1-910814-18-5 (e-book) 

Penerbit : www.E-IR.info. Bristol, England


1.     GLOBAL POVERTY AND WEALTH (James Arvanitakis & David J. Hornsby)

2.     PROTECTING PEOPLE (Alex J. Bellamy)

3.     CONNECTIVITY, COMMUNICATIONS AND TECHNOLOGY (Andreas Haggman)

4.     VOICES OF THE PEOPLE (Jeffrey Haynes)

5.     TRANSNATIONAL TERRORISM (Katherine E. Brown)

6.     THE ENVIRONMENT (Raul Pacheco-Vega)

7.     FEEDING THE WORLD (Ben Richardson)

8.     MANAGING GLOBAL SECURITY BEYOND ‘PAX AMERICANA’ (Harvey M. Sapolsky)

9.     CROSSINGS AND CANDLES (Peter Vale)

Friday, February 12, 2021

Catch-Phrase

IDIOM

1)  Big Wig means a rich, important or very famous person. “ the big wigs walked down the red carpet”

2)  Fired mean lose a job. “he was always late for work, so he was fired”

3)  Heard it through the grapevine mean to learn from gossip. “I just heard it through the grapevine that she likes him”

4)  Loose Cannon mean unpredictable or out of control person. “these athletes are loose cannons”

5) Pot hole mean a hole in the road. “when the snow melts you can see the pot holes”

6)  Put a sock in it mean quiet down or stop doing something annoying. “that is so noisy, put a sock in it”

7)  Quack mean a bad or dodgy doctor. “that doctor gave me the wrong medicine, I think he is a quack”

8)  Saved by the bell mean rescued at the last minute. “the struggling swimmer was saved by the bell”

9)   Tip mean reward for good service. “the outstanding waiter received a big tip”

10)  Underdog mean a person or group who is disadvantaged and will probably lose a competition. “he cheered for his sports team even thoug he knew the were underdogs”

11) Wave a red flag mean warn about danger. “scientifists waved a red flag before hurricane katrina arrived”

12) Back to the drawing board. kembali mulai lagi

13) close knit. so close

14) twisting someone's arm. force someone does something

15) spice things up. membuat suasana lebih seru

Buku 2026 (2)

Buku kedua yang saya lumat selama seharian di Januari 2026 adalah buku perjalanan spiritual Mohammad Zaim. Buku tentang perjalanan panjang t...