tiro paddissengan anna den timba lako mesa kesimpulan "Puang Allah mesa-mesa to parallu diparannuanni"
Monday, April 13, 2020
Covid-19 in International Relations
Kuliah umum ini dimoderasi oleh Bpk. Tatok dan Ibu Shiskha via aplikasi Zoom. kuliah online yang diadakan karena wabah virus Corona yang semakin mengkhawatirkan.
Pak Tatok
Pak Tatok
A. Theme of global orchestra
Role of state, Society dynamic, market structure, production process (Supply, chain, human resource), Distribution of commodity, comsuptin mode, thechnological embeded (education, market, human/society relation, bureucracy)
B.
*****
Wabah virus Corona menjadi antitesis dari Globalisasi. jika Globalisasi adalah sebuah keadaan dimana batas-batas negara seperti tereduksi dan sudah sangat samar namun kehadiran viru Corona menjadi jawaban yang tegas bahwa batas-batas masih dibutuhkan dengan jargon social distancing. Globalisasi seperti sedang menemukan lawan yang sepadan ketika semua negara melakukan penutupan bandara dari dan ke negara lain.
banyak pertanyaan tentang fenomena yang terjadi pada studi HI pasca Covid-19. beberapa diantaranya saya kutip dari sumber yang random.
1. Moreover, will different nations see the pandemic as an impetus for working more closely together, or will the see it as an opportunity to gain adavantage in the context of "great power competition"? Sumber
2. Three scenarios are possible this stage. the best case envisages a modearte economic disturbance. which can hopefully be dealt with by the existing world order and throufh the mobilization of existing financial tools. a much more likely scenario, which qualifies as bad, foresees sever economic damage neccessitating a massive demand for reconstruction, even if it cannot be met through available resources and by the shaky global institutional architerture. the worst case scenario will be really ugly; it includes a devastating economic collapse of potentially historic proportions, leading to social and political turmoil in a number of countries, a sea change as to configuration of the world order, and curtailed connectivity. Sumber
Geopolitical scenarios for Asia after Covid-19. Sumber
The Corona virus could reshape global order. Sumber
Sunday, April 12, 2020
Islam, Diplomacy & International Politics (2)
Tulisan ini adalah rangkuman dari bahan bacaan yang dibagikan oleh Pak Umam.
Religion and Islam in Contemporary International Relations
By. Maurits Berger
the year 1979 was a turning point. a post-colonial period where socialism and secularism had reigned dominantly in the Muslim world was abruptly ended, and a new period started where the force of Islam (religiously, politically and ideoligically) gained momentum
one important factor for the appeal of Islam is the fact that those who preach Islam have put action wehre their mouth is- not only religous rhetoric, but social, economic and political action that is undertaken in the name of Islam has given the so-called "Islamists" their credibility and constituency.
a wide diversity remains within islamic though. one of the newer trends is that of "post-Islamism" an Islamic ideology that is inclusive aiming at tolerance and pluralism.
it should be noted that "islamization is not limited to Muslims. the western world is undergoing the same process, althouhg sometimes unwilingly.
the distionction between the two words -Muslim and Islamic-has to do with the value attached to them. A "Muslim country" will in the following be defined as a country with a majority Muslim population regardless of whether religion plays a role in their personal, social or political life. "Islamic" meanwhile, points at a specific use of the religion;
Islamization in the Muslim world is therefore a complex interplay of attributing values, wishful thinking, true beliefs, devotional talk and oppressive instruction.
Foreign policies of Muslim states role in four fields, namely human rights, economics, War & Peace and the protection of Islam.
Human Rights
banyak Muslim yang memandang HAM adalah konstruksi barat yang harus dipertemukan dengan Islam yang asli. saat berbicara mengenai HAM, tidak bisa dilepaskan dari konvensi yang ditandantangani oleh negara-negara termasuk negara Muslim.
Economics
Islamic Finance is soaring. banyak bank di negara barat dan lembaga keuangan yang mengadopsi sistem keuangan Islam. baik terpisah dari kantor maupun bagian dari pelayanan mereka.
All in all, where "Islamic" issues tend to cause friction between the Muslim and Western worlds, Islamic finance is the exception.
War and Peace (and Terrorism)
dapat disimpulkan bahwa aktivitas Islam dalam konsep perang dan damai adalah isu internal antar sesama Muslim. However, it directly affects the west in three ways.
1. ketika negara barat terlibat konflik senjata di negara Muslim, baik pendudukan maupun intervensi, on the national goverment's invitation, or as an international peacekeeping mission, Islam akan digunakan sebagai pertahanan diri
2. beberapa organisasi militan Islam seperti Islamic Jihad dan Al-Qaeda telah mengembangkan konsep "musuh jauh"
3. membela tanah air Islam telah bercampur dengan pengertian pertahanan Islam. konsep mempertahankan dan melindungi harus dipisahkan.
Protecting Islam
Melindungi Islam adalah aktivitas Islam yang tumbuh sejak awal 1990an baik domestik maupun internsional.
secara domestik, dilakukan dalam banyak cara. mereka yang memproklamirkan diri sebagai pelindung Islam kebanyakan menargetkan Individu yang dituduh menyinggun atau melecehkan Islam, dan mayoritas yang dituduh adalah mayoritas orang Islam sendiri kadang-kadang non-Muslim terutama Politikus, intelektual dan artis.
secara domestik, dilakukan dalam banyak cara. mereka yang memproklamirkan diri sebagai pelindung Islam kebanyakan menargetkan Individu yang dituduh menyinggun atau melecehkan Islam, dan mayoritas yang dituduh adalah mayoritas orang Islam sendiri kadang-kadang non-Muslim terutama Politikus, intelektual dan artis.
Saturday, April 11, 2020
Homo Deus
Yuval Noah Harari
Kelaparan, wabah dan perang selalu ada di puncak daftar. generasi demi generasi sudah berdoa kepada setiap Tuhan, Malaikat, dan Santa dan telah menemukan tak terhitung alat, institusi, dan sistem sosial tetapi mereka terus mati dalam jumlah jutaan akibat kelaparan, epidemi dan kekerasan. banyak pemikir dan nabi menyimpulkan bahwa kelaparan, wabah dan perang telah menjadi bagian integral dari rencana kosmis Tuhan atau karena alam kita yang memang belum sempurna dan sampai akhir dunia pun kita tidak akan terbebas dari semua itu.\
Untuk kali pertama dalam sejarah, kini lebih banyak orang yang mati akibat terlalu banyak makan ketimbang orang yang kurang makan, lebih banyak orang mati karena lanjut usia ketimbang karena penyakit menular, dan lebih banyakaorang melakukan bunuh diri ketimbang jumlah gabungan orang yang dibunuh oleh tentara, teroris dan penjahat. pada awal abad ke 20, lebih banyak kemungkinan manusia mati akibat McDonald ketimbang akibat kekeringan, Ebola atau serangan Al-Qaeda.
Setelah kelaparan, musuh besar kedua kemanusiaan adalah wabah dan penyakit menular. epide mungkin tiba-tiba meletus dan menghancurkan seluruh keluarh dalam sekali sambar.
Wabah paling terkenal yang dinamai Maut Hitam meletup pada dekade 1330, di suatu tempat di Asia timur atau tengah ketika bakteri penumpang kutu Yersinia Pestis mulai menginfeksi manusia yang digigit kutu.
Sampai dengan era modern, manusia menyebut penyakit sebagai akibat dari udara buruk, setan jahat dan dewa yang marah dan tidak mencurigai keberadaan bakteri serta virus. orang-orang dengan mudah percaya pada malaikat dan peri tetapi mereka tak bisa membayangkan ada seekor kutu mungil atau setetes air bisa berisi satu armada penuh predator mematikan.
Pada 5 Maret 1520, satu rombongan kecil kapal-kapal Spanyol bertolak meninggalkan pulau Kuba dalam perjalanan menuju Meksiko. kapal-kapal itu membawa 900 tentara Spanyol bersama kuda-kuda, senjata api, dan sejumlah budak Afrika. salah satu budah itu, Francisco de Egula membawa satu kargo pasukan yang jauh lebih mematikan dalam tubuhnya., virus cacar.
Setiap beberapa tahun kita dicemaskan oleh suatu ledakan potensial wabah baru seperi SARS pada tahun 2002/2003, flu burung pada tahun 2005 flu babi pada tahun 2009/2010 dan Ebola pada tahun 2014
Kita tidak tahu pasti bahwa suatu wabah baru Ebola atau galur flu tak dikenal tidak akan melanda dunia dan membunuh jutaan orang.
sebagaian orang memandang perang sebagai hal lumrah sedangkan perdamaian adalah keadaan sementara dan tidak pasti. hubungan internasional diatur dengan hukum rimba, yang berarti sekalipun dua pemerintahan hidup berdamai perang selalu tetap menjadi opsi.
Terorisme adalah strategi kelemahan yang dipilih oleh mereka yang tak punya akses pada kekuasaan riil.
Bagi rata-rata orang Amerika dan Eropa, Coca-Cola menjadi ancaman yang jauh lebih mematikan ketimbang Al-Qaeda.
Manusia jarang puas dengan apa yang sudah dicapai. reaksi paling umum pikiran manusia pada prestasi bukan kepuasan melainkan mengejar lebih banyak.
Bagi orang modern, kematian adalah sebuah masalah teknis yang bisa dan seharusnya kita pecahkan. Misi andalah sanis modern adalah mengalahkan kematian dam memberi manusia usia muda abadi.
Atap kaca kebahagiaan mampu bertahan karena ditopang oleh dua pilar kokok yakni psikologis dan biologis.
Tidak ada orang yang menderita karena kehilang pekerjaan bercerai atau karena pemerintah mengadakan perang. satu-satunya hal yang membuat orang menderita adalah sensasi-sensasi tidak menyenangkan dalam tubuhnya sendiri.
Bukan tujuan yang membuat kita bahagia, melainkan perjalanannya, memanjat puncak Everest lebih memuaskan daripada saat berdiri di puncaknya.
Sebagian besar dari kita cenderung melompat langsung dari stres ke kebosanan dan kembali lagi. tetap tidak puas dengan satu dan lainnya.
Sekitar 2.300 tahun lalu Epicurus mengingatkan para muridnya bahwa pencarian kesenangan yang berlebihan akan berbuah penderitaan bukan kebahagiaan. Buddha mengajarkan bahwa pencarian sensasi-sensasi kebahagiaan sesungguhnya adalah akar dari penderitaan.
Selama ribuan tahun, sejarah penuh dengan lonjakan-lonjakan teknologi, ekonomi, sosial dan politik namun satu hal yang tetap; kemanusiaan itu sendiri
prediksi bahwa kemungkinan pada abad ke-21 umat manusia akan mengejar imortalitas, kebahagiaan dan keilahian.
Sejarah baru akan menjelaskan bahwa situasi kita saat ini tidak bersifat alamiah maupun abadi. dulu keadaannya berbeda.
Alasan terbaik untuk belajar sejarah; bukan untuk meramalkan masa depan melainkan untuk membebaskan diri anda dar masa lalu dan membayangan cita-cita alternatif.
Satu hal yang tunggal yang konstan dalam sejarah adalah bahwa segalanya berubah. ketimbang mengkhawatirkan asteroid, kita sebaiknya takut pada diri kita sendiri.
yang membuat nasib binatang ternak domestikasi amat sangat keras bukan hanya cara mereka mati melainkan juga yang lebih penting, cara mereka hidup.
99% keputusan kita-termasuk pilihan kehidupan yang paling penting yang berkaitan dengan pasangan karir dan habitat, dibuat dengan algoritma-algoritma yang disaring dengan teliti yang kita sebut sensasi dan hasrat
revolusi agrikultur merupakan sebuah revolusi ekonomi dan agama. Saat revolusi agrikultur, umat manusia membungkam binatang dan tumbuhan sedangkan saat revolusi saintifik, umat manusia membungkan Tuhan juga.
membunuh seorang warga negara Amerika bisa menciptakan teriakan Internasional yang lebih besar ketimbang membunuh seorang warga negara Afganistan.
revolusi biasanya diciptakan oleh jaringan kecil agitatior bukan oleh massa. orang komunis berhasil merebut kekuasaan dari Imperium Rusia yang besar karena mereka terorganisasi dengan baik.
Penyebab perang adalah fiksional tetapi penderitaan adalah 100% riil. inilah sesungguhnya kenapa kita harus berjuang untuk membedakan fiksi dari realitas.
Berkat komputer dan rekayasa biologi, perbedaan antara fiksi dan realitas akan kabur karena orang membentuk ulang realitas agar sesuai fiksi-fiksi mereka.
Agama berusaha memperkuat tatanan duniawi sedangkan spritualitas berusaha membebaskan diri darinya.
Sejarah modern dibentuk oleh pertarungan hidup mati antara pengetahuan saintifik dan takhayul keagamaan.
Modernitas adalah sebuah pernjanian. kita semua menandatangani perjanjian ini sejak hari kita dilahirkan.
Bisakah ekonomi benar-benar bisa terus tumbuh selamanya? tidakkah pada akhirnya ia akan kehilangan sumber daya dan berhenti sama sekali? nama riil dari ekonomi modern adalah runtuhnya ekologi. baik kemajuan sains maupun pertumbuhan ekonomi terjadi dalam sebuah biosfer yang rapuh.
Pengalaman adalah fenomena subjektif yang terdiri dari tiga unsur utama, sensasi, emosi dan pikiran.
Kedokteran abad ke-20 bertujuan mengobati orang sakit sedangkan kedokteran abad-21 semakin ditujukan untuk memperbaharui orang sehat. operasi plastik misalnya.
Islam, Diplomasi & Politik Internasional (1)
Demokrasi dan Pluralisme Agama di Asia Tenggara:
Perbandingan Antara Indonesia dan Malaysia
By. Kikue Hamayotsu
Konsep "Toleransi Kembar" that is saling menghargai antara negara dan institusi keagamaan.
Making of the United Nation of Indonesia and Nascent Religious Pluralism
Sukarno was also committed to protecting and accommodating non-Muslim minority communities as equal members of the nation he was about to build, which is evident in the following statement:
As I repeatedly said, I am not prohibiting any person from propagating his ideology.
But, remember, absolute unity, absolute unity, absolute unity, put the emphasis on
unity. Do not throw it into jeopardy. I am thinking of the Christians, the Christians
group. Not one, not three, nor a hundred, but thousands of Christians died in the
struggle to defend freedom… Should we not value their sacrifices, too? Their hope
is to be with all of us members of a united and free Indonesian people.
Do not use the term “minorities,” no! The Christians do not want
to be called a minority (Feith and Castles 1970, 169).
Jika sebegitu kuatnya keinginan Sukarno dalam mereduksi perbedaan pada tataran keagamaan, kemudian kapan realitas yang terjadi sekarang benar-benar dimulai dan apa pemicunya, meskipun di awal kemerdekaan, Sukarno juga sudah mendapat tantangan dari beberapa Islamis? dari sejarah yang umum di masyarakat kita bahwa Islam masuk ke Indonesia dengan cara damai, misalnya melalui jalur perdagangan, dan juga kebudayaan seperti yang ditempuh oleh Walisongo. jika demikian damainya Islam saat pertama kali masuk ke Indonesia, kenapa berubah menjadi arrogant saat sudah mayoritas. kalau di India kan memang penaklukan oleh Dinasti Umayyah jadi agak dimaklumi jika konflik horizontal atas nama agama di India berlangsung sampai sekarang.
Tidak bisa dinafikan bahwa beberapa tahun belakang, politik identitas di negeri ini terutama yang mengatasnamakan Islam, sudah mendominasi segala aspek, dan yang lebih parahnya adalah ada beberapa politisi yang akhirnya melihat Identitas Islam sebagai sebuah senjata paling ampuh untuk mengejar kekuasaan. akhirnya konflik horizontal sudah menjadi lazim di tengah Masyarakat kita yang pada akhirnya Masyarakat yang berkonflik meyakini mereka membela agamanya sedangkan pada kenyataannya, mereka sedang dalam pengaruh racun politisi.***
Democratic Consolidation and Declining Religious Freedom and Pluralism
According to the Setara institute, a respected Jakarta-based prodemocracy human rights organization, the incidence of assaults and harassments against minority communities based on religious affiliation, belief, or religious practice has increased dramatically since the mid-2000s and persists today. In other cases, hardline groups employ violence and intimidation to force Christian communities to close their houses of worships or discontinue religious activities. Although those incidents are concentrated in several provinces such as West Java, South Sulawesi and East Java, a national survey
conducted by the Center for Strategic and International Studies (CSIS) confirms that intolerant and discriminatory attitudes among the public, both Muslim majority and non- Muslim minority, in relations to other religious communities have become common across the country (The Center for Strategic and International Studies 2012 ).
Plural Society without Religious Pluralism: Malaysia’s Muslim Dominant Nation- Building
Sukarno was also committed to protecting and accommodating non-Muslim minority communities as equal members of the nation he was about to build, which is evident in the following statement:
As I repeatedly said, I am not prohibiting any person from propagating his ideology.
But, remember, absolute unity, absolute unity, absolute unity, put the emphasis on
unity. Do not throw it into jeopardy. I am thinking of the Christians, the Christians
group. Not one, not three, nor a hundred, but thousands of Christians died in the
struggle to defend freedom… Should we not value their sacrifices, too? Their hope
is to be with all of us members of a united and free Indonesian people.
Do not use the term “minorities,” no! The Christians do not want
to be called a minority (Feith and Castles 1970, 169).
Jika sebegitu kuatnya keinginan Sukarno dalam mereduksi perbedaan pada tataran keagamaan, kemudian kapan realitas yang terjadi sekarang benar-benar dimulai dan apa pemicunya, meskipun di awal kemerdekaan, Sukarno juga sudah mendapat tantangan dari beberapa Islamis? dari sejarah yang umum di masyarakat kita bahwa Islam masuk ke Indonesia dengan cara damai, misalnya melalui jalur perdagangan, dan juga kebudayaan seperti yang ditempuh oleh Walisongo. jika demikian damainya Islam saat pertama kali masuk ke Indonesia, kenapa berubah menjadi arrogant saat sudah mayoritas. kalau di India kan memang penaklukan oleh Dinasti Umayyah jadi agak dimaklumi jika konflik horizontal atas nama agama di India berlangsung sampai sekarang.
Tidak bisa dinafikan bahwa beberapa tahun belakang, politik identitas di negeri ini terutama yang mengatasnamakan Islam, sudah mendominasi segala aspek, dan yang lebih parahnya adalah ada beberapa politisi yang akhirnya melihat Identitas Islam sebagai sebuah senjata paling ampuh untuk mengejar kekuasaan. akhirnya konflik horizontal sudah menjadi lazim di tengah Masyarakat kita yang pada akhirnya Masyarakat yang berkonflik meyakini mereka membela agamanya sedangkan pada kenyataannya, mereka sedang dalam pengaruh racun politisi.***
Democratic Consolidation and Declining Religious Freedom and Pluralism
According to the Setara institute, a respected Jakarta-based prodemocracy human rights organization, the incidence of assaults and harassments against minority communities based on religious affiliation, belief, or religious practice has increased dramatically since the mid-2000s and persists today. In other cases, hardline groups employ violence and intimidation to force Christian communities to close their houses of worships or discontinue religious activities. Although those incidents are concentrated in several provinces such as West Java, South Sulawesi and East Java, a national survey
conducted by the Center for Strategic and International Studies (CSIS) confirms that intolerant and discriminatory attitudes among the public, both Muslim majority and non- Muslim minority, in relations to other religious communities have become common across the country (The Center for Strategic and International Studies 2012 ).
Plural Society without Religious Pluralism: Malaysia’s Muslim Dominant Nation- Building
Friday, April 10, 2020
Debat Paradigma dalam Hubungan Internasional
A. Idealism vs Realism
The first debate emerged after WW I brought up by the liberals who reveals that war is not the only way to solve the problems at that time. in addition, the impact caused by the war also affects the economy of the country concerned in the war had become unmanageable. then the estabishment of the league of nations by Woodrow Wilson in one of the plans that aim to create world peace and order were then not able to surviveto quell the turmoil of conflict in Europe that ultimately led to WW II.
it was later criticized by realist that in view on the comprehensive an in-depth against liberalism is of EH Carr, he argues that the are conflicts of interest in both between countries and between communities so that international relations is essentially about the struggle between the conflicting interests (Jackson & Sorensen, 1999,54)
Realist perspective that puts the country on the composition oh the top hierachy where there is no power and other higher institution of the country resulted in a country have an absolute right to pursue and defend its nationtal interests. such as Thomas Hobbes's statement that the views of these countries seen as essential to the lives of its citizens without state guarantees the tools and conditions that promote the safety and well being, human life becomes restricted (Hobbes, 1946, 82)
That certainly is contrary to the views of liberals. and at the end of the realist out as winners in the first debate because the views are considered more objective and realistic
Traditionalism vs Behavioralism
The second debate occured at the time of the Cold War where the constellation of the international system centered on two major countries who became the winner of the WW II, namely the united states and the Soviet Union. both countries wanted methods to study the most effective policies in maintaining the rivalry interaction. then, the focuses to the issue of the methodology used in attempt to achieve their national interests are traditionalism and positivism
Traditionalism is more directed to the study of international relations as a social science approach which can be done through an understanding of the history and practice of diplomacy, history and the role of International Law. political theory in sovereign state (Jackson & Sorensen, 1999, 61).
This is where the debate because the basic idea is very contradictory. and from each of those views no winner. but the positivism bring significant contribution to the development of IR studies to date because the use data quite significant research results
Realism vs Pluralism vs Structuralism
Realism, liberalism, and marcism together considered to be inolbed in a interparadigm debate in the 1980s, with realism became the dominant perspective among the three.
Michael Banks (19850 formulate this debate by using a number of models. burton concluded that this debate occured between realism, the state-centered or state-centric approach (billiard Ball model). and pluralism. a network of transnational and transgovermental numerous actors and processes (Cobweb Model) then added by him, there was structuralism, multi-headed octopus model which consists of powerful tentacles constantly sucking wealth from the weakened peripheries towards the powerful centers (Guzzini 1998) all three argue about the primariy actors, dynamics, dependent variables and the scope of the study of international relations according to their own philosophical and theoretical standing. somehow, the are incommensurable because many features of each school were not shared by each other
Positivism vs Post-Modernism
Great debate going on positivism and postmodernism was the fourth major debate that occurred in the 1990s where the constellation of international system in that period entered the post-cold war era and an important period in which the study of international relations experiencing rapid development. so that the debate was happening at that time bring together the traditions that have been established with alternative appoarch, also known as post-postivist
post-positivist itself is understood that broad that include the views of different methodological, which consists of critical theory, post-modernism, costructivism, and a normative theory (Jackson & Sorensen 1999, 299) that each of these approaches try to critize approaches which has been established in the past. the debate between positivism and postmodernism itself came to light after the encouragement and skepticims of the psotmodernists towads positivism about an objective truth in science.
the main thing, a contentious issue, between the two perspectives is due to different views and interpretations about whether there is an objective truth that applies universally in science. positivists are considered to have had an established method laims that objective truth can be obtained through scientific procedure that have been made that can ultimately find and objective truth. on the other hand the postmodernists appear to provide resistance to the positivists and tried to explain that there is no absolute truth in science, especially social science whose primary object is a human being, whereas everything related to humans is subjective and not objective as stated by positivists.
there is no denying that fat postomoderni approach has been widely attacked by mainstream groups as too theoretical and not give attention to the real world. in response, the postmodenists replied that there is no so-called real world because man himself will not be able to interpet every reality (Smith, 1997, 242)
Sumber: App Playstore Theories & Debates
Realism vs Pluralism vs Structuralism
Realism, liberalism, and marcism together considered to be inolbed in a interparadigm debate in the 1980s, with realism became the dominant perspective among the three.
Michael Banks (19850 formulate this debate by using a number of models. burton concluded that this debate occured between realism, the state-centered or state-centric approach (billiard Ball model). and pluralism. a network of transnational and transgovermental numerous actors and processes (Cobweb Model) then added by him, there was structuralism, multi-headed octopus model which consists of powerful tentacles constantly sucking wealth from the weakened peripheries towards the powerful centers (Guzzini 1998) all three argue about the primariy actors, dynamics, dependent variables and the scope of the study of international relations according to their own philosophical and theoretical standing. somehow, the are incommensurable because many features of each school were not shared by each other
Positivism vs Post-Modernism
Great debate going on positivism and postmodernism was the fourth major debate that occurred in the 1990s where the constellation of international system in that period entered the post-cold war era and an important period in which the study of international relations experiencing rapid development. so that the debate was happening at that time bring together the traditions that have been established with alternative appoarch, also known as post-postivist
post-positivist itself is understood that broad that include the views of different methodological, which consists of critical theory, post-modernism, costructivism, and a normative theory (Jackson & Sorensen 1999, 299) that each of these approaches try to critize approaches which has been established in the past. the debate between positivism and postmodernism itself came to light after the encouragement and skepticims of the psotmodernists towads positivism about an objective truth in science.
the main thing, a contentious issue, between the two perspectives is due to different views and interpretations about whether there is an objective truth that applies universally in science. positivists are considered to have had an established method laims that objective truth can be obtained through scientific procedure that have been made that can ultimately find and objective truth. on the other hand the postmodernists appear to provide resistance to the positivists and tried to explain that there is no absolute truth in science, especially social science whose primary object is a human being, whereas everything related to humans is subjective and not objective as stated by positivists.
there is no denying that fat postomoderni approach has been widely attacked by mainstream groups as too theoretical and not give attention to the real world. in response, the postmodenists replied that there is no so-called real world because man himself will not be able to interpet every reality (Smith, 1997, 242)
Sumber: App Playstore Theories & Debates
Diplomasi in Asean
A. ASEAN’s ‘people-oriented’ aspirations: civil society influences on non-traditional security governance
(dimuat dalam Australian Journal of International Affair, 2017 Vol. 71, No. 1, 24-41)
By. Laura Allison and Monique Taylor
1. Artikel ini membahas tentang:
2. Central argumennya adalah:
3. Metode & Kesimpulannya adalah:
4. My stand point:
Rezim di seluruh negara kawasan tidak pernah benar-benar menginginkan masukan dari masyarakat sipil, dan kalaupun mereka negara tersebut melibatkan masyarakat sipil, tidak lebih sebagai sebuah pemanis bibir.
Tulisan ini mengelaborasi peran SCO dalam kawasan Asean melalui dua contoh NTS yang diajukan yaitu Pembajakan Laut dan bantuan serta manajemen bencana.
Rezim di seluruh negara kawasan tidak pernah benar-benar menginginkan masukan dari masyarakat sipil, dan kalaupun mereka negara tersebut melibatkan masyarakat sipil, tidak lebih sebagai sebuah pemanis bibir.
Tulisan ini mengelaborasi peran SCO dalam kawasan Asean melalui dua contoh NTS yang diajukan yaitu Pembajakan Laut dan bantuan serta manajemen bencana.
CSOs have the potential to play an important role in dealing the maritim piracy, but they have not yet been extensively incorporated into ASEAN frameworks for concrete consultation and decision-making. Anti-piracy CSOs have played an important role in addressing the complex problem of maritime piracy in South-East Asia.
Tulisan ini lebih melihat peran CSO pada mitigasi bencana contohnya CSO terlibat dalam Agreement on Disaster Management and Emergency Relief (AADMER), yang termanifestasi dalam AADMER Partnership Group (APG).
Kesimpulan:
Tulisan ini menunjukkan bahwa partisipasi CSO dalam menyikapi NTS sangat signifikan, karena biasanya sdm, keahlian, dst dalam menangani masalah ini seringkali melampaui kapasitasn organisasi Asean.
Tantangannya adalah CSO seharusnya bisa memberikan nilai tambah dalam menghadapi NTS bukan hanya sekedar manajemen risiko. seharusnya CSO dilihat sebagai sebuah entitas politik di Asia Tenggara dan menjadi partner yang bermanfaat bagi Asean
B. From the ASEAN People’s Assembly to the ASEAN Civil Society Conference: the boundaries of civil society advocacy
(dimuat dalam Contemporary Politics, 2013, Vol. 19, No. 4, 411-426)
By. Kelly Gerard
1. Artikel ini membahas tentang:
2. Central argumennya adalah:
3. Metode & Kesimpulannya adalah:
4. My stand point:
Organisasi Masyarakat Sipil (CSO) dan hubungannya dengan Asean
Dua forum organisasi Masyarakat Sipil yang masih bertahan adalah ASEAN People’s Assembly (APA), organised by ASEAN-ISIS (Asean Institute of Strategic and International Studies) and held seven times from 2000 to 2009, and the ASEAN Civil Society Conference (ACSC), organised by the Solidarity for Asian People’s Advocacy network and held nine times from 2005 to the present.
Many activists did not seek to interact with ASEAN. paid much more attention to the threats posed by international organizations such as the International Monetary Fund, the World Bank, and the World Trade Organization, di lain sisi, para aktivis CSO menganggap bahwa posisi Asean sebagai organisasi yang lemah dan memilik dampak yang minim terhadap masyarakat Asia Tenggara. CSO juga menganggap Asean juga seakan-akan terlalu jauh dalam urusan yang biasanya menjadi ranah CSO
Dalam Pertemuan Masyarat Asean (APA), peran Organisasi Masyarakat Sipil (CSO) sangat minim karena dominasi Asean-ISIS sebagai pihak penyelenggara terlalu besar bahkan membatasi siapa saja anggota CSO yang boleh hadir.
ASEAN Civil Society Conference (ACSC), diselenggarakan oleh Solidarity for Asian People’s Advocacy (SAPA) diadakan bersamaan dengan KTT Pemimpin Asean
ACSC sebenarnya sangat potensial bagi CSO untuk menginfiltrasi kepentingan-kepentingan mereka karena diadakan bersamaan dengan KTT Asean namun di lain hal, sifat ACSC yang inklusif membuat GONGO (government-organised non-governmental organisations) ikut serta dalam forum ACSC sehingga masalah yang dibicarakan menjadi bias. GONGO merupakan organisasi non pemerintah namun secara tersembunyi mewakili pemerintah karena dibentuk oleh Pemerintah itu sendiri.
CSO menjaga agar ACSC tetap bersifat inklusif namun juga berusaha untuk mencegah GONGO agar tidak menggunakannya sebagai alat dalam mendukung kebijakan Pemerintah.
Similiarity and Differences between two articel above:
Perbedaannya adalah tulisan Laura Allison and Monique Taylor melihat keterlibatan CSO di Asean dalam perannya menyikapi NTS di Asea Tenggara dan signifikansinya CSO dalam masalah-masalah NTS sedangkan tulisan Kelly Gerard mencoba melihat signifikansi peran CSO dalam tubuh Asean dengan mengelaborasi keterlibatan CSO dalam 2 forum masyarakat sipil Asean yaitu APA dan ACSC
Perbedaannya adalah tulisan Laura Allison and Monique Taylor melihat keterlibatan CSO di Asean dalam perannya menyikapi NTS di Asea Tenggara dan signifikansinya CSO dalam masalah-masalah NTS sedangkan tulisan Kelly Gerard mencoba melihat signifikansi peran CSO dalam tubuh Asean dengan mengelaborasi keterlibatan CSO dalam 2 forum masyarakat sipil Asean yaitu APA dan ACSC
perbedaaan yang lain adalah tulisan Laura dan Monique menempatkan masyarakat Sipil pada tataran mitigasi masalah sedangkan tulisan Kelly Gerard memandang seharusnya CSO terlibat juga dalam pengambilan keputusan.
Stand point saya adalah saya sepakat dengan tulisan Laura Allison and Monique Taylor bahwa Masyarakat Sipil seharusnya dipandang lebih di kawasan Asia Tenggara sebagai sebuah entitas yang memberikan nilai lebih pada organisasi ini dalam menjawab tantangan ke depan.
***disajikan pada mata kuliah Diplomasi in Asean via E-learning tanggal 11 April 2020
Monday, April 6, 2020
Epistemologi
Bagaimana suatu dunia dimana tidak ada pengamat, tidak ada subjek yang mengetahui?
Epistemologi adalah suatu kajian dalam filsafat yang utamanya adalah mencari pengertian dari pengetahuan, asal usulnya, penyebabnya dan cara bekerjanya. bagi para pelajar filsafat Indoneisa, Epistemologi biasanya dikaitkan dengan pertanyaan pokok, apakah syarat-syarat dari pengetahuan kita? atau seperti yang dinyatakan Kant, bagaimana pengetahuan kita mungkin? pertanyaan ini berusaha mencari tahu apakah landasan dari pengetahuan kita yang kita klaim sebagai sesuatu yang didasarkan pada entah itu pengalaman, rasionalitas atau sumber lainnya.
Kant, filsuf dari Jerman mempertanyakan karena tidak puas dengan jawaban sementara ini. untuk memahami pertanyaan Kant, kita harus memahami konteks pemikirannya. pemikiran Kant muncul dari perdebatan abad modern sekitar abad 18 ke 19 khususnya berkenaan dengan sumber pengetahuan. ada sebagian pemikiran yang disebut Rasionalis yang berpendapat bahwa pengetahuan kita berasal dari yg sifatnya rasional belaka.
Sebagian filsuf seperti Descartes, Spinoza, Leibniz. biasanya diakitkan dengan paham ini (Rasionalis). Mereka percaya bahwa pengetahuan itu sepenuhnya didasarkan pada rasio/nalar. dalam matematika kita tidak perlu mengetahui kenyataan empiris di luar kita untuk sampai pada kesimpulan ttg masalah-masalah matematis. kita cukup mengandalkan pengetahuan rasional kita yang murni berasal dari apa yg disebut Lumen-Naturale, cahaya alami yang turun dalam benak kita berdasarkan rasio.
Contoh lain dari pengetahuan yang sepenuh rasional adalah pengetahuan Logika. Filsuf seperti leibniz percaya betul bahwa Logika itulah kunci dari segala macam ilmu pengetahuan. berlawanan dengan kaum Rasionalis, ada juga kaum Empirisis. berasal dari kata Yunani aritnya pengalaman. menurut Empirisis seperti Hume atau Lock, pengetahuan kita didasarkan sepenuhnya terhadap pengalaman indrawi. segala macam kesimpulan yang bisa kita tarik mengenai dunia sebetulnya hanya mengenai turunan dari pengalaman indrawi itu. itulah menurut Hume tidak ada pengetahuan yang mutlak/niscaya karena menurut Hume setiap pengetahuan sebetulnya karena didasarkan pada data indrawi yang terbatas tidak akan bisa sampai pada kesimpulan yang sifatnya berlaku umum kapan saja dan dimana saja.
Rasionalisme dan Empirisme merupakan suatu pandangan yang memiliki akar sejarah pemikiran yang panjang. Rasionalisme berangkat dari tradisi matematis dalam ilmu-ilmu formal terutama matematika, Logika, Geometri dst yang berkembang sejak abad 4 sd 5 masa Yunani kuno. rasionalisme semacam itu bisa dilacak jejaknya sejak Plato yang mengutamakan pada pengetahuan yang sifatnya rasional berdasarkan nalar. sebaliknya kaum Empirisme dapat kita lacak asal usulnya pada pemikiran orang-orang yang sangat mendalami ilmu-ilmu alam. jauh sebelum ilmu alam itu ditemukan misalnya seperti Aristoteles.
Aristoteles mengawali pendekatan Filsafat yang sifatnya menekankan bukti-bukti Empiris yang didapat dari pengalaman walau begitu dia tidak mengabaikan usaha rasional untuk merekonstruksi bukti-bukti empirisis itu sehingga kita sampai pada kesimpulan yang dapat diandalakan. Aristotelianisme bukan dasar utama dari inspirasi Empirisme. Empirisme berkembang sekitar abad 17an pasca renaisans. pada renaisans, kita menemukan pendekatan baru dalam ilmu-ilmu di Eropa sekitar abad 15 dan 16 yaitu penekanan pada bukti yang sifatnya langsung indrawi, bisa langsung diamati semua orang. Mereka menekankan kekuatan observasi atau pengamatan. hukum benda jatuh yang ditemukan Galileo berasal dari iklim pemikiran seperti itu. dia berangkat dari suatu hipotesis dan menguji coba melalui eksperimen dalam lingkungan sehari-hari.
Aristoteles mengawali pendekatan Filsafat yang sifatnya menekankan bukti-bukti Empiris yang didapat dari pengalaman walau begitu dia tidak mengabaikan usaha rasional untuk merekonstruksi bukti-bukti empirisis itu sehingga kita sampai pada kesimpulan yang dapat diandalakan. Aristotelianisme bukan dasar utama dari inspirasi Empirisme. Empirisme berkembang sekitar abad 17an pasca renaisans. pada renaisans, kita menemukan pendekatan baru dalam ilmu-ilmu di Eropa sekitar abad 15 dan 16 yaitu penekanan pada bukti yang sifatnya langsung indrawi, bisa langsung diamati semua orang. Mereka menekankan kekuatan observasi atau pengamatan. hukum benda jatuh yang ditemukan Galileo berasal dari iklim pemikiran seperti itu. dia berangkat dari suatu hipotesis dan menguji coba melalui eksperimen dalam lingkungan sehari-hari.
Pasca Galileo, kita menemukan revolusi ilmu pengetahuan modern khususnya dalam pemikiran Issac Newton abad 17. Newton memadukan observasi indrawi atas gejala alamiah dari objek-objek langit dan memadukannya dengan penalaran matematis, hasilnya suatu sintesis yang mepertemukan Empirisisme dan Raisonalisme. kendati begitu filsuf seperti Hume mempersoalkan temuan-temuan sains modern seperti itu yang berpretensi memberikan klaim atas kenyataan sebagaimana adanya. Mneurut Hume, kenyataan sebagaimana adanya hanya bisa disimpulkan melalui observasi yang tak hingga karena observasi kita terbatas, selalu terhingga, sampel tidak pernah mencakup keseluruhan alam semesta maka kita sebenarnya tidak bisa menyimpulkan hal yang sifatnya general atau umum.
Di tengah konflik antara Empirisisme dan Rasionalisme itulah muncul filsuf seperti Kant. ia mempersoalkan bagaimana pengetahuan kita bisa didasarkan baik dari Rasionalitas ataupun pengetahuan indrawi. untuk itulah dia mempertanyakan apa sebetulnya syarat utama dari pengetahuan. jawaban Kant apa yang disebut Epistemologi. era kontemporer, masalah Epistemologi muncul dalam bentuknya yang khas.
Salah satunya problem tentang pengetahuan sebagai apa yang disebut dalam tradisi analitik Justified true belief yang berarti suatu keyakinan atau kepercayaan yang sudah terjustifikasi dengan benar. artinya komponen pembentuk pengetahuan adalah salah satunya kepercayaan dan bukti. masalahnya keduanya seringkali tidak beriringan. contohnya yang ditemukan G.E Moore, filsuf Inggris awal abad 20 khususnya berkenaan hubungan belief dan knowledge. kalau benar pengetahuan itu keyakinan yang terjustifikasi dengan benar maka bagaimana dengan pernyataan seperti misalnya :saya tahu di luar hujan tetapi saya tidak percaya. bagaimana klaim seperti itu atau proposisi seperti itu kita mengerti. kalau ada orang di luar hujan dan dia tahu itu tetapi pada saat yang sama tidak mempercayai hal itu, bagaimana kita lalu mengevaluasi klaimnya. jelas bertentangan dengan syarat utama dari pengetahuan yaitu belief.
Salah satunya problem tentang pengetahuan sebagai apa yang disebut dalam tradisi analitik Justified true belief yang berarti suatu keyakinan atau kepercayaan yang sudah terjustifikasi dengan benar. artinya komponen pembentuk pengetahuan adalah salah satunya kepercayaan dan bukti. masalahnya keduanya seringkali tidak beriringan. contohnya yang ditemukan G.E Moore, filsuf Inggris awal abad 20 khususnya berkenaan hubungan belief dan knowledge. kalau benar pengetahuan itu keyakinan yang terjustifikasi dengan benar maka bagaimana dengan pernyataan seperti misalnya :saya tahu di luar hujan tetapi saya tidak percaya. bagaimana klaim seperti itu atau proposisi seperti itu kita mengerti. kalau ada orang di luar hujan dan dia tahu itu tetapi pada saat yang sama tidak mempercayai hal itu, bagaimana kita lalu mengevaluasi klaimnya. jelas bertentangan dengan syarat utama dari pengetahuan yaitu belief.
Disini kita menemukan apa yag disebut paradoks Moore. ini adalah suatu paradoks tentang klaim pengetahuan tetapi pada yang sama dia tidak percaya tentang hal yang dia ketahui. itu contoh dari masalah Epistemologi yang berkembang awal abad 20. dewasa ini masalah jauh lebih pelik antara lain lain tentang debat yang disebut a priori. a priori adalah suatu prasa dalam Kant yang pada dasarnya menunjuk pada seuatu dimensi pengetahuan yang ada sebelum pengalaman. Kant percaya bahwa pengetahuan kita tidak sepenuhnya berdasar pada pengalaman. pengetahuan kita berasal dari pengalaman tetapi tidak berhenti pada pengalaman. sisaan lain yang tidak terjawab oleh pengalaman disebut nalar. disitu Kant membedakan apa yang disebut a priori dan a posteriori. ini berkaitan dengan justifikasi atas pengetahuan kita. pengetahuan a postriori adalah pengetahuan yang datang setelah pengalaman. pengetahuan a priori sebelum pengalaman yang menunjuk pada nalar murni yakni nalar yang tidak bertumpu pada nalar indrawi sama sekali.
Dalam bentuk kontemporernya, debat tentang a priori berkenaan dengan status dari pengetahuan a priori itu sendiri dalam arti sungguhkah ada pengetahuan a priori yang berasal dari pengalaman sama sekali. pengetahuan a priori dalam diskusi kontemporer dikaitkan dengan kepercayaan kuno yaitu kepercayaan tentang suatu potret ilahi dalam diri manusia yaitu kemampuan menalar tanpa pengalaman. ini kepercayaan yg telah ditinggalkan berkat kemajuan sains modern dimana semua bisa ditemukan berdasarkan fakta indrawi. berlawanan dengan konsensus bahwa tidak ada lagi nalar a priori. sebagian Filsuf kontemporer menghidupkan kembali tradisi pemikiran, memperkuat klaim atas sikap a priori atas pengetahuan.
Walaupun banyak hal yang bisa diterangkan oleh pengalaman indrawi tetapi ada yg tidak terpecahkan oleh pengalaman itu yaitu persoalan yang berkaitan dengan matematika atau logika. kedua merupakan ranah ilmuan yang jauh dari indrawi. bagaimana misalnya kita mengakses tentang pengetahuan objek-objek yang tidak mungkin ada. bagamana kita tahu 2+2 tidak sama dengan 5. pengetahuan matematis seperti ini tidak mungkin kita cari asal usulnya pada perhitungan yang sifatnya empiris. bagamana dengan kontradiksi dalam logika. dalam logika dikenal prinsip ledakan. suatu prinsip dimana kalau ada premis yng kontradiktif, misalnya yang 1 menyatakan P yg lain menyatakan non P maka kita bisa menyatakan apa saja dari situ. jika langit berwarna biru dan langit tidak berwarna biru maka Gajah bisa terbang. itu bentuk penyimpulan yg sahih menurut logika. bagamana kita menjustifikasi pengetahuan logis itu berdasarkan nalar empiris kita. kita tidak pernah melihat langit yang biru sekaligus tidak biru. kita tidak pernah melihat Gajah bisa terbang. tapi kita tahu secara niscaya bahwa langit biru sekaligus tidak biru, maka Gajah bisa terbang dan Kucing bertelur. itu kesimpulan yang sepenuhnya logis dan niscaya dan itu tidak bisa dijustifikasi berdasarkan pengalaman empiris.
Dengan melihat gejala pada masalah matematika dan logika inilah, muncul motivasi sebagian filsuf kontemporer untuk coba merevitalisasi konsep a priori pengetahuan. epistemologi tidak hanya berurusan dengan apa yang dapat kita ketahui tetapi juga apa yang tidak dapat kita ketahui. segala sesuatu yang betul-betul tidak mungkin kita ketahui. dengan kata lain epistemologi berurusan dengan batas pengetahuan manusia. ada hal-hal yang tidak mungkin kita tidak ketahui entah itu nalar, atau pengetahuan indrawi. salah satu topik klaisik dalam hal ini misalnya pengetahuan kita tentang hal-hal yang bersifat spritual, pengetahuan tentang Ketuhanan. mungkinkah Tuhan yang tidak terhingga bisa ditangkap oleh pengetahuan makhluk yang terhingga. itu masalahnya. tetapi hal yang sering dianggap tidak mungkn diketahui tidak hanya berkaitan Ketuhanan bahkan hal sepele seperti objek diluar kita pun masih menjadi misteri apa kah itu dapat diketahui atau tidak sama sekali. bagaimana kita memastikan bahwa ada objek di luar diri kita. kita mendasarkannya pada pengetahuan yg sifatnya subjektif, sekali berakar pada pengetahuan kita sendiri. keberadaan objek di luar diri kita merupakan suatu kesimpulan dari pengetahuan dalam diri kita.
Lalu bagaimana kita bisa tahu pasti bahwa objek itu sudah sungguh-sungguh ada terlepas dari pengetahuan kita. andaikan tidak ada subjek yang mengetahui apakah objek yang diketahui itu ada? bayangkan suatu dunia dimana tidak ada pengamatan, tidak ada subjek yg mengetahui. apakah dunia itu sendiri ada? hal ini berkaitan juga dengan kesimpulan kita mengenai bukan hanya objek-objek dalam arti benda tetapi juga juga orang lain. apakah sungguh ada orang lain diluar diriku sendiri? keberadaan orang di luar kita akan kita simpulkan dari pengetahuan kita sendiri. kita simpulkan dari sensasi yang kita terima ketika kita seperti merasa berinteraksi dengan orang lain. kita belum tentu tahu sebelumnya apakah ada atau tidak ada org lain di luar kita. inilah pandangan yang disebut sebagai Solipsisme. salah satu pandangan yang berkembang antara lain dalam pemikiran Descartes yaitu suatu pandangan bahwa tidak ada objek di luar kita yang betul-betul bisa kita ketahui keberadaannya. tantangan bagi para pengkaji epistemologi antara lain membuktikan bahwa dunia di luar kita ini ada dan kita bisa mengetahuinya, kita bisa memberikan bukti pengetahuan bagi keberadaan objek-objek itu termasuk diantaranya adalah keberadaan pikiran yang lain atau orang lain. disini juga kita melihat keterkaitan antara epistemologi dan masalah metafisika. karena kita tahu bahwa keberadaan objek di luar kita sebetulnya adalah masalah metafisika tetapi cara kita untuk sampai pada kesimpulan tetang objek di luar kita itu adalah persoalan Epistemologi.
dari sini kita bisa lihat bahwa hubungan antara berbagai cabang filsafat itu sangat erat.
Walaupun banyak hal yang bisa diterangkan oleh pengalaman indrawi tetapi ada yg tidak terpecahkan oleh pengalaman itu yaitu persoalan yang berkaitan dengan matematika atau logika. kedua merupakan ranah ilmuan yang jauh dari indrawi. bagaimana misalnya kita mengakses tentang pengetahuan objek-objek yang tidak mungkin ada. bagamana kita tahu 2+2 tidak sama dengan 5. pengetahuan matematis seperti ini tidak mungkin kita cari asal usulnya pada perhitungan yang sifatnya empiris. bagamana dengan kontradiksi dalam logika. dalam logika dikenal prinsip ledakan. suatu prinsip dimana kalau ada premis yng kontradiktif, misalnya yang 1 menyatakan P yg lain menyatakan non P maka kita bisa menyatakan apa saja dari situ. jika langit berwarna biru dan langit tidak berwarna biru maka Gajah bisa terbang. itu bentuk penyimpulan yg sahih menurut logika. bagamana kita menjustifikasi pengetahuan logis itu berdasarkan nalar empiris kita. kita tidak pernah melihat langit yang biru sekaligus tidak biru. kita tidak pernah melihat Gajah bisa terbang. tapi kita tahu secara niscaya bahwa langit biru sekaligus tidak biru, maka Gajah bisa terbang dan Kucing bertelur. itu kesimpulan yang sepenuhnya logis dan niscaya dan itu tidak bisa dijustifikasi berdasarkan pengalaman empiris.
Dengan melihat gejala pada masalah matematika dan logika inilah, muncul motivasi sebagian filsuf kontemporer untuk coba merevitalisasi konsep a priori pengetahuan. epistemologi tidak hanya berurusan dengan apa yang dapat kita ketahui tetapi juga apa yang tidak dapat kita ketahui. segala sesuatu yang betul-betul tidak mungkin kita ketahui. dengan kata lain epistemologi berurusan dengan batas pengetahuan manusia. ada hal-hal yang tidak mungkin kita tidak ketahui entah itu nalar, atau pengetahuan indrawi. salah satu topik klaisik dalam hal ini misalnya pengetahuan kita tentang hal-hal yang bersifat spritual, pengetahuan tentang Ketuhanan. mungkinkah Tuhan yang tidak terhingga bisa ditangkap oleh pengetahuan makhluk yang terhingga. itu masalahnya. tetapi hal yang sering dianggap tidak mungkn diketahui tidak hanya berkaitan Ketuhanan bahkan hal sepele seperti objek diluar kita pun masih menjadi misteri apa kah itu dapat diketahui atau tidak sama sekali. bagaimana kita memastikan bahwa ada objek di luar diri kita. kita mendasarkannya pada pengetahuan yg sifatnya subjektif, sekali berakar pada pengetahuan kita sendiri. keberadaan objek di luar diri kita merupakan suatu kesimpulan dari pengetahuan dalam diri kita.
Lalu bagaimana kita bisa tahu pasti bahwa objek itu sudah sungguh-sungguh ada terlepas dari pengetahuan kita. andaikan tidak ada subjek yang mengetahui apakah objek yang diketahui itu ada? bayangkan suatu dunia dimana tidak ada pengamatan, tidak ada subjek yg mengetahui. apakah dunia itu sendiri ada? hal ini berkaitan juga dengan kesimpulan kita mengenai bukan hanya objek-objek dalam arti benda tetapi juga juga orang lain. apakah sungguh ada orang lain diluar diriku sendiri? keberadaan orang di luar kita akan kita simpulkan dari pengetahuan kita sendiri. kita simpulkan dari sensasi yang kita terima ketika kita seperti merasa berinteraksi dengan orang lain. kita belum tentu tahu sebelumnya apakah ada atau tidak ada org lain di luar kita. inilah pandangan yang disebut sebagai Solipsisme. salah satu pandangan yang berkembang antara lain dalam pemikiran Descartes yaitu suatu pandangan bahwa tidak ada objek di luar kita yang betul-betul bisa kita ketahui keberadaannya. tantangan bagi para pengkaji epistemologi antara lain membuktikan bahwa dunia di luar kita ini ada dan kita bisa mengetahuinya, kita bisa memberikan bukti pengetahuan bagi keberadaan objek-objek itu termasuk diantaranya adalah keberadaan pikiran yang lain atau orang lain. disini juga kita melihat keterkaitan antara epistemologi dan masalah metafisika. karena kita tahu bahwa keberadaan objek di luar kita sebetulnya adalah masalah metafisika tetapi cara kita untuk sampai pada kesimpulan tetang objek di luar kita itu adalah persoalan Epistemologi.
dari sini kita bisa lihat bahwa hubungan antara berbagai cabang filsafat itu sangat erat.
Sumber: Youtube Martin Surayajaya
Filsafat Ilmu Pengetahuan
Filsafat ilmu Pengetahuan adalah suatu kajian Filsafat mengenai dasar-dasar Ilmu Pengetahuan sebagai ranah kajian. pengetahuan berbeda dari informasi dan data. sekalipun data merupakan unit dasar dari pengetahuan. memiliki data belum tentu memiliki pengetahuan. ketika kita berhasil membangun antar data maka kita peroleh informasi, misalnya ada objek X (suatu data) dan objek X berelasi dengan Y di lokasi Z, itu disebut informasi. Informasi adalah keterhubungan antar data atau himpunan data-data yang berelasi. memiliki informasi saja belum tentu memiliki pengetahuan. untuk memperoleh pengetahuan, kita harus memperoleh informasi itu dengan membangun penjelasan tentangnya. informasi apa yang menjadi dasar dari informasi yang mana. itulah kemudian menjadi dasar untuk menjelaskan gejala yang ada. dari situ kita bicara pengetahuan. ketika pengetahuan telah berhasil diolah lebih lanjut dengan melihat keterkaitan dengan pengetahuan yang lain dan didasarkan pada fakta dan dibangun oleh suatu teori yang tervalidasi oleh fakta maka kita bicara ilmu pengetahuan. ada suatu hirearki antara data, informasi, pengetahuan dan ilmu pengetahuan. tahu tentang X belum berarti memiliki sains tentang X. kalau kajian filosif tentang pengetahuan itu disebut Epistemologi maka kajian filosofis tentang Ilmu pengetahuan disebut filsafat Ilmu pengetahuan.
Sains atau ilmu pengetahuan merupakan produk sejarah yang tidak terlalu lama. Sains muncul pertama kali akhir masa renaisans yaitu ketika pengaruh filsafat dokmatik abad pertengahan sudah luntur dan usaha untuk mencari tahu kenyataan di sekitar kita berdasarkan observasi Empiris sedang naik daun. berbeda dengan pengetahuan yang dikonsolidasikan dari zaman klasik Yunani sampai abad Pertengahan, Ilmu pengetahuan pada era renaisans dan awal modern memilik ciri unik. sebagai istilah tentang tentu saja Sains sudah dikenal jauh sebelum masa Renaisans. pada masa Yunani kuno dan abad pertengahan, bentuk-bentuk yang menyerupai Sains biasanya dipraktekkan dalam bentuk spekulatif. spekulatif di sini dalam arti penalaran kita atas Alam dilakukan sepenuhnya secara rasional, teoritis dan tidak mendasarkan diri pada fakta-fakta yang disediakan oleh observasi atau penyerapan indrawi kita terhadap alam. argumen lebih diutamakan daripada data Empiris karena hal ini didasari oleh pandangan/asumsi metafisis bahwa dibalik segala macam yang selalu bergerak, ada sesuatu yang tetap dan pencerapan terhadap alam semesata yag berubah-ubah tidak akan membawa kita kemana-mana kecuali kita mendasarinya pada intuisi rasional tentang alam yang tidak berubah yaitu alam kodrat. pengetahuan yang dihargai masa Yunani kuno dan abad Pertengahan yaitu pengetahuan yang sifatnya teoritis.
Hal ini berubah sekitar akhir abad 16 yakni ketika Ilmuwan alam masa itu mulai menggali data dari pengalaman indrawi, data Empiris melalui percobaan. eksperimen Galileo Galilei misalnya, dia melakukan sebuah eksperimen naik ke menara Piza dan menjatuhkan dua objek yang massanya berbeda. yang satu lebih berat dari lain. hasilnya mencengangkan semua orang yang ada di tempat itu. dua benda yang massa berbeda, jatuh pada waktu yang sama. temuan ini bersifat kontraintuitif karena dari intuisi sehari-hari banyak orang, benda yang beratnya lebih besar tentunya jatuh lebih cepat. eksperimen Galilei itu membuktikan intuisi orang banyak salah.
Di sini kita melihat kekhasan Sains. tidak dibangun atas intuisi rasional semata tetapi dikonfirmasi secara Empiris di lapangan. jika teori menyatakan A sementara temuan Empiris menyatakan B maka teori yang direvisi sehingga bisa menjelaskan mengapa temuan Empiris menyatakan B bukan sebaliknya. tetapi tidak semua Ilmu pengetahuan bercorak Empiris ada juga Ilmu pengetahuan seperti matematika yang sama sekali tidak memiliki dasar pada gejala Empiris alam di sekitar kita. Ilmu seperti matematika tidak bisa selalu dituntut memiliki bukti pada ranah Empiris. sifat non-Empiris matematika inilah yang membuatnya digolongkan dalam rumpun Ilmu formal. logika adalah juga bagian dari rumpun tersebut, dia bersifat formal seperti matematika.
Pada abad 20, rumpun Ilmu formal dan yang sifatnya Empiris dipersatukan oleh apa yang dikenal sebagai pendekatan Positivisme logis. Positivime adalah suatu gerakan pemikiran yang muncul pada pemikiran Auguste Comte abad 19 yang menolak segala bentuk spekulasi teoritis yang tidak didasari oleh bukti-bukti Empiris. orang seperti Auguste comte mencetuskan reformasi Ilmu pengetahuan sehingga semua bisa dibasiskan pada kaidah-kaidah Ilmu alam. Positivisme logis tidak didasari oleh pemikiran Postivistik Auguste comte berbeda dari anggapan orang selama ini. ia berangkat dari Positivisme yg muncul di akhir abad 19 awal abad 20 yaitu pemikiran Ernest Mach.
Ernest Mach mencetuskan Postivisme modern yang tidak lagi dibasiskan pada asumsi2 auguste comte. menurut Mach, sesuatu ilmiah sejauh sesuatu itu memiliki dasar pada pembuktian Empiris yang sifatnya langsung bisa diobservasi. Positivisme Mach bukan soal bagaimana masyarakat dikelolah secara ilmiah seperti dalam bayangan Comte. Postivisme Mach adalah bagaimana status ilmiah dari suatu teori bisa dijamin. Mach menunjukkan bahwa segala klaim Ilmu tentang entitas teoritis seperti elektron harus bisa dibasiskan pada klaim yang sifatnya teramati. kalau klaim tentang entitas teoritis tidak bisa dibasiskan pada pernyataan yang merujuk pada gejala yang teramati maka klaim itu dinyatakan tidak berlaku. selain Positisme Mach, Positivisme logis juga menimba inspirasi dari Ilmu logika modern yang muncul pada peralihan abad 20. berasal dari karya Gottlob Frege yang menunjukkan logika Aristotalian yg dipejari selama berabad-abad tidak memadai untuk merumuskan perkembangan Ilmu terkini. perhatian Frege pada matematika yaitu bagaimana matematika bisa dirumuskan secara ketat, rapi dan deduktif. dengan memadukan pemikiran Positisme Mach dan tradisi logika modern Frege kemudian seperti rudolf Carnap mencetuskan konsepsi baru tentang Sains. Carnap salah seorang tokoh penting dalam gerakan Positivisme Logis atau dikenal sebagai Lingkaran Wina.
Pada abad 20, rumpun Ilmu formal dan yang sifatnya Empiris dipersatukan oleh apa yang dikenal sebagai pendekatan Positivisme logis. Positivime adalah suatu gerakan pemikiran yang muncul pada pemikiran Auguste Comte abad 19 yang menolak segala bentuk spekulasi teoritis yang tidak didasari oleh bukti-bukti Empiris. orang seperti Auguste comte mencetuskan reformasi Ilmu pengetahuan sehingga semua bisa dibasiskan pada kaidah-kaidah Ilmu alam. Positivisme logis tidak didasari oleh pemikiran Postivistik Auguste comte berbeda dari anggapan orang selama ini. ia berangkat dari Positivisme yg muncul di akhir abad 19 awal abad 20 yaitu pemikiran Ernest Mach.
Ernest Mach mencetuskan Postivisme modern yang tidak lagi dibasiskan pada asumsi2 auguste comte. menurut Mach, sesuatu ilmiah sejauh sesuatu itu memiliki dasar pada pembuktian Empiris yang sifatnya langsung bisa diobservasi. Positivisme Mach bukan soal bagaimana masyarakat dikelolah secara ilmiah seperti dalam bayangan Comte. Postivisme Mach adalah bagaimana status ilmiah dari suatu teori bisa dijamin. Mach menunjukkan bahwa segala klaim Ilmu tentang entitas teoritis seperti elektron harus bisa dibasiskan pada klaim yang sifatnya teramati. kalau klaim tentang entitas teoritis tidak bisa dibasiskan pada pernyataan yang merujuk pada gejala yang teramati maka klaim itu dinyatakan tidak berlaku. selain Positisme Mach, Positivisme logis juga menimba inspirasi dari Ilmu logika modern yang muncul pada peralihan abad 20. berasal dari karya Gottlob Frege yang menunjukkan logika Aristotalian yg dipejari selama berabad-abad tidak memadai untuk merumuskan perkembangan Ilmu terkini. perhatian Frege pada matematika yaitu bagaimana matematika bisa dirumuskan secara ketat, rapi dan deduktif. dengan memadukan pemikiran Positisme Mach dan tradisi logika modern Frege kemudian seperti rudolf Carnap mencetuskan konsepsi baru tentang Sains. Carnap salah seorang tokoh penting dalam gerakan Positivisme Logis atau dikenal sebagai Lingkaran Wina.
Lingkaran Wina adalah bagian dari suatu kelompok intektual yang muncul di Austria sekitar dekade 1920an 30an yang percaya bahwa semua Ilmu pengetahuan pada dasarnya satu dan bisa disatukan dan dikenal sebagai Sains terpadu (Unified Science). dalam Lingkaran Wina terdapat dua konsep terkait Sains terpadu. pertama konsep yang diusulkan Otto Neurath. Otto percaya bahwa semua bahasa ilmu bisa disatukan. Sains terpadu pada dasrnya adalah Sains dengan bahasa yang terpadu. dengan demikian dalam pandangan Otto Neura Sains tetap ada banyak, Fisika, Biologi, Ilmu Sosial dst. yang membuat terpadu adalah bahasanya. suatu pernyataan sosiologi bisa dirumuskan ulang dalam bahasa kimia. pernyataan kimia bisa dirumuskan ulang dalam bahasa fisika, dst.
berbeda dengan itu, ada pula 1 konsepsi tentang sains terpadu yang lebih keras sifatnya yang berasal dari rudolf. dia percaya bahwa sains terpadu bukan hanya tentang penyatuan suatu bahasa tetapi lebih jauh lagi adalah penyatuan ilmu itu sendiri. bagai carnap, hanya ada 1 ilmu di dunia yaitu fisika. semua Ilmu lain bisa dirumuskan ke dalam Fisika. dengan demikian yang dipersatukan bukan hanya bahasa tetapi juga Ilmu dengan kata lain kenyataan. hanya ada satu kenyataan yaitu kenyataan Fisika yang kemudian tercermin dalan berbagai tingkat dalam realitas Biologi, Kimia Manusia dst. visi tentang Sains terpadu diwujudkan dalam teori tentang reduksi ilmu-ilmu ke dalam ilmu dasar yaitu ilmu Fisika. dalam teorinya, pernyataan ilmu-ilmu seperti misalnya Ekonomi atau Antropologis bisa direduksi kedalam pernyataan-pernyataan Fisika. reduksi ini dilakukan dengan membahasakan ulang pernyataan ulang dari ilmu-ilmu sosial ke dalam pernyataan-pernyataan yang sifatnya formal. pernyataan formal itulah yang dirumuskan ulang menjadi pernyataan tentang ilmu-ilmu alam atau ilmu-ilmu dasar seperti misalnya Fisika. di situ dia menggunakan segala macam aparatus logika modern yang ditemukan Frege yang dikembangkan Bertrand Russell.
Pada akhirnya pernyataan Fisika pun sebagai pernyataan paling dasar direduksi ke dalam suatu yang disebut kalimat observasional atau kalimat Protokol (Protocol Sentence). Protocol Sentence ini adalah suatu sederhana pernyataan sederhana yang menyatakan bahwa objek X teramati si subjek Y pada waktu dan tempat Z dst. seluruh kalimat dalam Ilmu pengetahuan menurut Carnap harus bisa direduksi sejenis itu. bagaimana dengan pernyataan Sains yang tidak bisa direduksi ke dalam Fisis sepert itu, misalnya pernyataan puisi atau kondisi psikologis manusia. bagaimana jika tidak bisa dirumuskan dalam bahasa Fisika. Carnap menyimpulkan bahwa pernyataan/kalimat yang tidak bisa dirumuskan ke dalam Fisika merupakan Pseudo statement. pernyataan semua Pseudo statement kemudian dia kelompok dalam rumpun Metafisika, artinya segala macam yang tidak saintifik/ilmiah itu dikelompokkan kesana. tugas filsat Ilmu menutur Carnap adalah membangun demarkasi antara Sains dengan Metafisika. apa yang Metafisis tidak diizinkan masuk ke dalam ranah ilmu-ilmu. dalam bentuk populernya, Lingkaran Wina/Positivisme Logis biasa diungkapkan ke dalam sebuah prinsip yng disebut prinsip verifikasi, artinya suatu teori harus dapat diverifikasi berdasarkan fakta Empiris.
Pada dekade 40an, Karl Popper mengkritik prinsip verifikasi. menurut Popper apa yang membuat suatu teori menjadi ilmiah bukan karena dia bisa diverifikasi tetapi harus bisa difalsifikasi. Sebuah teori yang tidak bisa dinyatakan kesalahannya, yang kebal dari segala bentuk kesalahan, yang tidak bisa dibuktikan bahwa pernyataan atau teori itu salah, teori itu menurut Popper tidak ilmiah. kritik terhadap Positivisme Logis lainnya diajukan oleh para Filsuf pada dekade 70an dan 80an. misalnya dalam pemikiran yang kemudian berkembang sebagai Realisme Struktural. Positivisme Logis dianggap membatasi klaim keilmuan pada semua gejala teramati sambil tidak menjelaskan akar dari gejala ayng teramati itu. akar dari gejala yang tidak teramati itu adalah suatu yang bersifat Stuktural. suatu yang inheren dalam alam atau dalam kenyataan tanpa selalu muncul dalam penglihatan Empiris kita. Struktur ini bersifat disposisional atau kata lain memotret kecenderungan dari sesuatu. kecenderungan itu tidak selalu harus aktual karena namanya kecenderungan tentu saja bisa laten, bisa inheren tanpa pernah mengaktualisasikan diri, tetapi kecenderungan itu tetap ada. contohnya kecenderungan benda pecah ketika terhantam oleh benda yang lebih keras. Realisme Struktural semacam ini muncul dalam pemikiran filsuf seperti Rom Harre atau Roy Bhaskar.
Pada dekade 40an, Karl Popper mengkritik prinsip verifikasi. menurut Popper apa yang membuat suatu teori menjadi ilmiah bukan karena dia bisa diverifikasi tetapi harus bisa difalsifikasi. Sebuah teori yang tidak bisa dinyatakan kesalahannya, yang kebal dari segala bentuk kesalahan, yang tidak bisa dibuktikan bahwa pernyataan atau teori itu salah, teori itu menurut Popper tidak ilmiah. kritik terhadap Positivisme Logis lainnya diajukan oleh para Filsuf pada dekade 70an dan 80an. misalnya dalam pemikiran yang kemudian berkembang sebagai Realisme Struktural. Positivisme Logis dianggap membatasi klaim keilmuan pada semua gejala teramati sambil tidak menjelaskan akar dari gejala ayng teramati itu. akar dari gejala yang tidak teramati itu adalah suatu yang bersifat Stuktural. suatu yang inheren dalam alam atau dalam kenyataan tanpa selalu muncul dalam penglihatan Empiris kita. Struktur ini bersifat disposisional atau kata lain memotret kecenderungan dari sesuatu. kecenderungan itu tidak selalu harus aktual karena namanya kecenderungan tentu saja bisa laten, bisa inheren tanpa pernah mengaktualisasikan diri, tetapi kecenderungan itu tetap ada. contohnya kecenderungan benda pecah ketika terhantam oleh benda yang lebih keras. Realisme Struktural semacam ini muncul dalam pemikiran filsuf seperti Rom Harre atau Roy Bhaskar.
Sekitar pertengahan abad 20, muncul tendensi baru dalam filsafat Ilmu pengetahuan. apabila orang seperti Rudolf Carnap mencoba melakukan rekonstruksi logis atas ilmu-ilmu, orang seperti Thomas kuhn misalnya menocba melakukan suatu rekonstruksi historis terhadap ilmu-ilmu. kecenderungan baru ini mewujud dalam pemikiran orang seperti Kuhn ini yaitu usaha untuk membaca kembali sejarah ilmu untuk melihat pergeseran yang terjadi. Kuhn memilah antara Sains normal dan Sains revolusioner. Sains normal adalah kondisi Sains ketika segala sesuatunya dianggap sudah mapan, sudah menjadi arus utama. teori-teori dianggap sudah berlaku untuk domain kenyataan yang mau diperiksanya, berbagai macam hukum dinyatakan berlaku dst. yang terjadi dalam Sains normal adalah konsolidasi lanjut dari kemapanan itu, misalnya dengan penerapan teori dan pembuktian bahwa teori itu bisa diberlakukan untuk kenyataan yang berlalu untuk gejala yang lebih luar.
Sains revolusioner adalah Sains dalam kondisi ketika masih dalam mencari bentuk yaitu ada sesuatu atau anomali yang tidak terjelaskan oleh Sains normal yang kemudian menghasilkan hipotesis baru yang pada akhirnya mendorong agenda penelitian baru, teori baru, hukum-hukum baru dst. kondisi revolusioner Sains ini pada akhirnya akan menjadi mapan perlahan-lahan dan kemudian kembali menjadi Sains normal yang baru. kajian yang sifatnya sejarah pemikiran atas Ilmu pengetahuan ini juga dilakukan oleh Imre Lakatos. berkaitan dengan pendekatan sejarah ilmu itu, berkembang pula suat pendekatan Sosiologi ilmu atau pendekatan yang melihat ilmu lebih dari segi praktek sosial. pendekatan yang berkembang sekitar dekade 80an kemudian mengerucut pada suatu posisi yang disebut sebagai anti Realisme. anti Realisme adalah pandangan bahwa klaim ilmu tentang kenyataan bukanlah sebetulnya tentang kenyataan tetapi klaim yang sifatnya sosiologis semata yang menunjukkan kepercayaan dari komunitas ilmuwan. pandangan ini misalnya dirumuskan oleh seorang filsuf ilmu pengetahuan bernama Bruno Latour dari Prancis.
Sains revolusioner adalah Sains dalam kondisi ketika masih dalam mencari bentuk yaitu ada sesuatu atau anomali yang tidak terjelaskan oleh Sains normal yang kemudian menghasilkan hipotesis baru yang pada akhirnya mendorong agenda penelitian baru, teori baru, hukum-hukum baru dst. kondisi revolusioner Sains ini pada akhirnya akan menjadi mapan perlahan-lahan dan kemudian kembali menjadi Sains normal yang baru. kajian yang sifatnya sejarah pemikiran atas Ilmu pengetahuan ini juga dilakukan oleh Imre Lakatos. berkaitan dengan pendekatan sejarah ilmu itu, berkembang pula suat pendekatan Sosiologi ilmu atau pendekatan yang melihat ilmu lebih dari segi praktek sosial. pendekatan yang berkembang sekitar dekade 80an kemudian mengerucut pada suatu posisi yang disebut sebagai anti Realisme. anti Realisme adalah pandangan bahwa klaim ilmu tentang kenyataan bukanlah sebetulnya tentang kenyataan tetapi klaim yang sifatnya sosiologis semata yang menunjukkan kepercayaan dari komunitas ilmuwan. pandangan ini misalnya dirumuskan oleh seorang filsuf ilmu pengetahuan bernama Bruno Latour dari Prancis.
Pengetahuan adalah informasi terstruktur oleh penjelasan.
Sumber:Martin Suryajaya
Subscribe to:
Posts (Atom)
Revolusi Harapan
Erich Fromm menulis buku ini dengan intensi untuk menemukan solusi atas keadaan Amerika Serikat sekitar tahun 1968. Solusi yang dia maksudk...
-
Erich Fromm menulis buku ini dengan intensi untuk menemukan solusi atas keadaan Amerika Serikat sekitar tahun 1968. Solusi yang dia maksudk...
-
Judul : Sebelum Filsafat Penulis : Fahrudin Faiz Penerbit : MJS Press Tahun : 2018 Halaman...
-
Judul : Berpikiri Kritis Penulis : Dr. Saifur Rohman, M.Hum Penerbit : Pustaka Alvabet Cetakan ...