Wednesday, December 7, 2022

Membaca (Kembali) Fungsi Institusi Kepolisian

Seorang wartawan senior, Toeti Adhitama, menceritakan bahwa pernah suatu waktu di tahun 2000, dia sedang melintas di bilangan jalan Fatmawati, Jakarta Selatan. Tiba-tiba seorang berseragam polisi berhenti di sebelah kanan mobilnya sehingga memaksa sopirnya menghentikan mobil kemudian si oknum polisi menggamit sopirnya turun dari mobil dan berdiskusi beberapa saat. Setelah kembali ke mobil, sopir menjelaskan bahwa mereka tidak salah, oknum polisi hanya meminta uang rokok.

Mungkin kita sering mendengar cerita yang hampir sama atau bahkan mengalami sendiri namun tentunya tidak cukup sebagai bukti untuk menghakimi kepolisian sebagai sebuah institusi yang sering melakukan pelanggaran dalam tugas karena dalam institusi manapun “oknum” yang keluar jalur selalu ada.

Tetapi apa yang kita saksikan di media saat ini menguatkan asumsi-asumsi negatif yang terpendam. Institusi kepolisian benar-benar dihantam badai dalam tiga bulan terakhir. Kesalahan-kesalahan “oknum” yang tidak signifikan diafirmasi oleh kasus yang dilakukan “oknum besar” yang menjadi representasi kepolisian. Bermula dari peristiwa pembunuhan terhadap Brigadir J yang diotaki oleh Irjen Ferdy Sambo. Tragedi tersebut tidak sesederhana pembunuhan pada umumnya namun meliputi banyak hal karena melibatkan orang lain yang dijadikan tameng, termasuk manipulasi hukum yang dilakukan oleh seorang jenderal untuk lepas dari jeratan hukum atas tindakan kriminal yang sudah dilakukan

Tidak berhenti pada kasus pembunuhan perwira tinggi Polisi terhadap bawahannya, terjadi tragedi Kanjuruhan yang menewaskan ratusan orang diduga karena keputusan satuan pengamanan yang menembakkan gas air mata ke tribun penonton. Tragedi tersebut menyebabkan Kapolda Jawa Timur, Irjen Nico Afinta dimutasi dan diganti oleh Irjen Teddy Minahasa Putra.

Kedua kasus tersebut di atas masuk dalam ranah penyelidikan Komnas HAM artinya bahwa tindakan kejahatan yang terjadi bukan hanya sekadar pembunuhan pada umumnya namun mempunyai implikasi yang lebih luas terhadap pelanggaran HAM. Sebuah ironi yang cukup menyesakkan dada karena seharusnya institusi kepolisian berfungsi sebagai alat negara untuk menegakkan HAM.

Seperti sebuah kisah telenovela, berselang beberapa hari setelah ditetapkan sebagai Kapolda Jawa Timur, Irjen Teddy ditangkap terkait kasus peredaran narkoba. Bahkan Polda Metro Jaya menangkap empat aparat kepolisian yang ikut andil dalam tindakan kejahatan pengedaran barang terlarang yang dilakukan oleh Irjen Teddy.

Serangkaian peristiwa yang melibatkan “oknum” polisi memaksa kita untuk merefleksikan kembali peran dan fungsi institusi kepolisian. Jika institusi kepolisian tidak menjadikan serangkaian peristiwa tersebut sebagai momentum untuk merekonstruksi potret mereka di tengah masyarakat maka kemungkinan terburuk yang akan terjadi bahwa masyarakat tidak akan menyisikan sedikit kepercayaan kepada mereka.

Tugas kepolisian sudah sangat jelas tercantum dalam pasal 30 ayat 4 UUD tahun 1945 bahwa “Kepolisian Negara Republik Indonesia sebagai alat negara yang menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat bertugas melindungi, mengayomi, melayani masyarakat, serta menegakkan hukum.” Namun kemudian bagaimana sebuah institusi yang dipercaya oleh UUD sebagai pengayoman tetapi justru menjadi institusi yang kontraproduktif terhadap fungsinya karena terlibat dalam pembunuhan sesame anggota, penanganan ketertiban umum yang menyebabkan korban jiwa bahkan ikut terlibat dalam pengedaran narkoba.

Ketika semua itu terbukti dilakukan oleh “oknum,” maka jangan salahkan jika di tengah masyarakat, menjamur premanisme karena kegagalan institusi kepolisian menampilkan dirinya sebagai pengayoman yang dapat dipercaya.

Kasus yang menghantam institusi kepolisian tidak bisa lagi disederhanakan bahwa pelaku hanya “oknum” karena mereka yang terlibat adalah pejabat kelas atas yang merupakan representasi dari institusi kepolisian.

 

Dilema Polri dalam Menjalankan Tugas

Terlepas dari berbagai kontroversi yang terjadi di dalam tubuh Polri, namun sebagai sebuah institusi yang merupakan alat negara untuk menjamin keamanan negara maka Polri senantiasa mengalami dilema dalam menjalankan tugasnya di tengah masyarakat. Polri menjadi garda terdepan yang menjadi sasaran kritik masyarakat yang ditujukan kepada negara.

Dalam hal pengamanan aksi unjuk rasa, Polri tidak bisa memilih untuk menolak karena fungsi mereka adalah menjaga ketertiban masyarakat, namun dalam proses penanganan yang terjadi di lapangan, seringkali tidak berjalan sesuai dengan apa yang direncanakan. Unjuk rasa yang berakhir kericuhan akan memaksa Polri untuk menentukan langkah taktis agar tidak terjadi kekacauan yang lebih luas tetapi yang terjadi bahwa jika terdapat cacat dalam keputusan yang diambil maka Polri akan dituntut melanggar HAM.

Kasus lain yang hampir serupa bahwa dalam hal menjalankan keputusan pengadilan seperti pengamanan penggusuran tanah, Polri menjadi alat untuk memastikan bahwa keputusan pengadilan dijalankan namun lagi-lagi bahwa keputusan pengadilan misalnya penggusuran sering berakhir kekecewaan dari pihak yang kalah di pengadilan dan berujung pada tindakan kerusuhan. Polri sebagai alat pengaman yang akan berhadapan dengan masyarakat.

Kondisi dilematis seperti itu yang menyebabkan Polri menjadi institusi negara yang paling rentan vis a vis dengan masyarakat umum sehingga tidak mengherankan jika berbagai kecaman ditujukan kepada Polri. Hal tersebut tentunya disebabkan karena alat negara yang paling dekat dengan masyarakat adalah Polri.

Namun demikian, tidak dinafikan bahwa berbagai kasus di masyarakat seringkali melibatkan “oknum” polisi yang melanggengkan kejahatan mulai dari kejahatan kelas teri seperti sabung ayam yang dipelihara oleh “oknum” polisi sampai pada tingkatan yang paling tinggi yaitu premanisme di tengah masyarakat yang sengaja diciptakan oleh lagi-lagi “oknum” polisi untuk meringankan tugas mereka.

 

Mengembalikan Marwah Polri

Pekerjaan rumah yang tidak mudah bagi institusi kepolisian untuk mengembalikan citra mereka di tengah masyarakat. Gelombang kasus yang menimpa institusi ini menjadi cerminan buram kepolisian terhadap masyarakat.

Serangkaian kasus di tubuh kepolisian akhirnya memaksa presiden Joko Widodo untuk memberikan arahan terhadap jajaran kepolisian. Inti dari arahan presiden menyangkut stereotip yang melekat di tubuh kepolisian antara lain tidak mempertontonkan gaya hidup mewah, meredam perilaku sewenang-wenang termasuk tindakan represif, Pelayanan masyarakat yang harus cepat dan memberikan rasa aman, meningkatkan solidaritas dengan TNI, Polisi tidak boleh gamang dan cari selamat namun harus bekerja sesuai regulasi, menegakkan hukum sehingga tidak dianggap lemah termasuk pemberantasan judi online dan komunikasi publik harus disampaikan dengan baik untuk menghindari salah kaprah.

Keputusan presiden untuk memanggil dan memberikan arahan terhadap sejumlah jajaran Polri di Istana, merupakan salah satu langkah nyata untuk menyelamatkan muka kepolisian di tengah masyarakat dan sebagai jalan setapak untuk mengembalikan marwah institusi ke fungsi awalnya sebagai pengayom masyarakat.

Tragedi yang terjadi di tubuh Polri, membawa pesan tersendiri bahwa sebagai alat negara yang berfungsi mengayomi, institusi ini juga harus mampu mawas diri dan merefleksikan dirinya sebagai institusi yang “dihormati” sehingga segala tindakan kejahatan yang dilakukan oleh oknum seharusnya tidak anggap sebagai sebuah pelanggaran yang sederhana.

Bagaimana mungkin sebuah institusi yang keramat akan dihormati oleh masyarakat jika terlalu banyak pelanggaran oknum yang dimaklumi oleh institusinya sendiri. Seharusnya pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan oleh oknum polisi harus lebih berat dari pelaku pelanggaran masyarakat umum.

#1

Saturday, November 26, 2022

Mahabbah Cinta (Mengarungi Samudera Cinta Rabi'ah Al-Adawiyah)




Judul               : Mahabbah Cinta (Mengarungi Samudera Cinta Rabi'ah Al-Adawiyah)
Penulis            : Asfari MS & Otto Sukatno CR
Penerbit          : Pustaka Hati
Cetakan          : Cetakan ke-2, Desember 2020
Halaman        : 180 Halaman

Rabi'ah Al-Adawiyah adalah sufi perempuan termasyur akan cintanya yang suci kepada Tuhan bahkan sampai memutuskan tidak menikah untuk menjaga kesucian cintanya. Beliau dikenal dengan syair-syairnya yang melambangkan agungnya cinta tertanam dalam hati. Dalam beribadah, beliau tidak mengharapkan iming-iming surga dan tidak takut pada siksa neraka namun semata untuk mendapatkan ridha Allah Swt.

Dalam buku ini dituliskan sejarah singkat kelahiran Rabi'ah. Ada dua pendapat yang menyatakan kapan Rabi'ah lahir. Menurut Harun Nasution, M Mastury, dan Abuddin Nata bahwa Rabi'ah lahir tahun 714 M sedangkan sumber lain mengatakan bahwa beliau lahir antara tahun 713 atau 717 M. Rabi'ah dilahirkan di Irak tepatnya di Basrah.

Rabi'ah lahir dari orang tua yang miskin sebagai anak bungsu dari empat bersaudara. Dikisahkan ketika menjelang beliau dilahirkan, ayahnya harus ke tetangga meminjam sarung untuk menutupi badannya. Tidak sampai di situ, di umur yang masih belia, Rabi'ah ditinggal mati kedua orang tuanya.

Di suatu masa, Basrah dilanda bencana kelaparan dan menyebabkan ketiga kakaknya meninggal sehingga Rabi'ah tinggal sebatang kara.  Penderitaan Rabi'ah tidak berhenti di situ karena beliau dijadikan budak dan dibayar murah dengan pekerjaan yang cukup berat. Ketika menjadi budak, Rabi'ah bermunajat kepada Allah yang didengar oleh tuannya. Munajat Rabi'ah melunakkan hati tuannya sehingga membebaskannya.

Rabi'ah memilih menjadi perawan bukan karena tidak ada yang meminangnya bahkan orang-orang besar saat itu meminang beliau namun ditolak. 

Rabi'ah menolak lamaran Abdul Wahid bin zaid dengan berkata:

”Hai orang yang bernafsu, carilah wanita lain yang juga bernafsu sebagaimana dirimu. Apakah kau melihat tanda birahi dalam diriku?”

 Penolakan Rabi'ah terhadap Muhammad bin Sulaiman, Amir Abbasiyah untuk Basrah ketika ditawarkan mas kawin 100 dirham “Hal itu tidak menyenangkanku, kamu akan jadi budakku dan semua yang kau miliki akan menjadi milikku” 

Rabi'ah menolak lamaran Hasan Basri dengan memberikan pertanyaan filosofis yang tidak mampu dijawab oleh Hasan Basri.

Ada dua hal yang membentuk mahabbah cinta Rabi'ah yaitu bekal dan pengalaman hidup yang diwarisi dari orang tuanya. Petuah ayahnya yang selalu diingatnya adalah tidak mencaci dan menyakiti perasaan manusia. Kedua, kondisi sosial masa kecilnya yang penuh dengan kekacauan sehingga menimbulkan kemiskinan, kelaparan dan perbudakan.

"Aku akan menyalakan api di dalam surga dan menyiramkan air ke neraka hingga tersingkaplah tabir yang menutup jalan orang-orang yang menuju kepada Allah akan jelas tujuan mereka, dan akan mereka saksikan Allah. Mereka dihalau oleh harapan dan tidak pula oleh rasa takut. Apakah jika tidak ada surga dan neraka, tidak ada lagi orang yang beribadah dan menaati Allah Swt?"


Menjadi Manusia, Menjadi Hamba

 

Judul               : Menjadi Manusia Menjadi Hamba
Penulis            : Fahruddin Faiz
Penerbit          : Noura Books
Cetakan          : Cetakan ke-3, September 2021
Halaman        : 309 Halaman

Filsafat merupakan bidang kajian ilmu yang masih menyisakan perdebatan baik perdebatan dalam tataran teologis mengenai boleh tidaknya mempelajari filsafat bagi seorang theis termasuk dalam posisi epistemologis yaitu bagaimana cara terbaik memahami filsafat. 

Dr. Fahruddin Faiz dikenal sebagai sosok dosen filsafat yang mampu menjelaskan filsafat dengan bahasa yang membumi sehingga mampu dipahami oleh semua kalangan. Beliau mengampu ngaji filsafat yang diadakan secara rutin di masjid Sudirman Yogyakarta yang sudah berlangsung sejak tahun 2013. Dari serangkaian ngaji filsafat yang sudah berlangsung hampir 1 dekade, lahirnya buku yang berjudul "Menjadi Manusia Menjadi Hamba."

Bagi yang sering mengikuti ngaji filsafat baik secara langsung maupun melalui video youtube kemudian membaca buku "Menjadi Manusia Menjadi Hamba," pasti langsung familiar dengan diksi yang ada di buku tersebut. Dalam artian bahwa buku yang sekarang dibahas adalah manuskrip dari series ngaji filsafat.

Penulis membagi buku dalam tiga bagian yaitu Manusia, Waktu, dan Penghambaan. Pada bagian Manusia, penulis mengelaborasi tentang hakikat manusia dalam 5 dimensi yaitu fitrah manusia, humor, pernikahan, doa, dan main-main dalam hidup.

Secara harfiah, fitrah diartikan sebagai tabiat, penciptaan, dan asal kejadian. Karakter fitrah manusia dalam Al Qur'an ada empat yaitu basyar - level fisik jasmaniah manusia, level ins (jinak)  dalam artian beradab, bisa diatur, dan patuh terhadap aturan. Level insan merujuk pada aspek akal budi. level nas - manusia secara kolektif atau umum. Sedangkan dari perspektif filsafat manusia dilihat dari tiga hal, manusia tujuan akhir penciptaan, manusia adalah mikrokosmos, dan manusia adalah cermin Tuhan.

Fitrah memiliki kecenderungan positif yaitu beragama, kecenderungan pada kebenaran, kecenderungan pada akhlak, kecenderungan pada keadilan, kebebasan, cenderung pada keindahan, kebersihan, dan kesucian, fitrah keturunan.

Humor merupakan fitrah manusia yang lain. Dalam Islam, tertawa itu boleh agar hati manusia tidak mati meski hati-hati karena overdosis ketawa juga bisa mengeraskan hati. Ontologi humor menurut Bergson bahwa manusialah makhluk lucu, ketika melihat monyet naik sepeda, yang lucu itu bukan monyetnya tetapi ketika memandangnya lucu karena kita melihat sisi manusianya.

Dalam Islam dikenal istilah la rahbaniyyah-tidak ada kerahiban dalam Islam, meskipun ada sufi yang tidak menikah bukan karena mereka mengharamkan nikah namun karena ada pertimbangan tersendiri. 

Tujuan menikah antara lain tujuan biologis, psikologis, tujuan sosial dan religius. Sedangkan manfaat pernikahan yaitu sense of purpose, drive to work hard, happiness chances, constant support, selfness, dan better physical and mental health.

Terkait doa, manusia itu lemah karena beberapa karakternya yaitu manusia itu tidak berdaya, ia tidak pasti, terbatas, dan mengandung banyak ketidakmungkinan. Kata Soren Kierkegaard " prayer doesnt change God, but it changes him who prays." Sedangkan Graham Dienert berkata "many people prays as if God were a big aspirin pill, the come only when they hurt."

Kalau anda berdoa dan lama tidak dikabulkan, coba anda teliti apakah ada hak orang lain yang masih terikut dengan anda atau barangkali anda punya kesalahan pada orang lain yang masih menjadi ganjalannya.

Hidup ini thinking, working, and playing. kalau tidak berpikir, maka dia bukan manusia. Kalau tidak kerja, untuk apa jadi manusia, kalau tidak bermain, serius amat jadi manusia. Bila hidup anda adlaha permainan, nikmatilah setiap naik turunnya gelombang permainan hidup, serunya di situ. Terkadang anda tertawa ketika sukses, terkadang menagis karena sedih, tapi ingatlah itu hanya akting. Sebenarnya Tuhan sedang bermain petak umpet dengna kita. Kita disuruh mencari Tuhan, disuruh mengenal Tuhan.

Pada bagian dua tentang waktu. Waktu linear berbicara tentang waktu yang jalan terus dan tidak mungkin balik. Waktu sirkular memandang waktu itu berputar dan tidak jalan lurus. Waktu akan balik lagi dari segi kualitas seperti roda berputar. Waktu objektif dan subjektif.

Menurut Agustinus salah satu filsuf skolastik, masa lalu dan mas depan itu tidak ada yang ada hanya masa kini. Menurutnya kemarin itu adalah mas kini di masa tersebut begitupun dengan esok hari. Kalau mengkhawatirkan hidup anda bakal suram lalu anda sedih, perlu dipahami bahwa suramnnya itu baru besok dan itu pun juga belum pasti, lalu buat apa sedih sekarang untuk hal yang belum pasti.

Agustinus sampai pada kesimpulan bahwa kunci waktu adalah mental manusia. Manusialah yang mengklasifikasi waktu. Manusialah yang memahami waktu, mengingat masa lalu dan menikmati masa kini lalu membayangkan masa depan.

 Manusia harus mewaktu aritnya "mengada dalam waktu." Manusia punya makna hidup sendiri bukan sekadar ikut-ikutan orang lain. bila suka berorganisasi, putuskan yang terbaik oleh dirimu sendiri bukan karena ikut orang lain, itulah yang dinamakan eksis-mengada dalam waktu.

Bagian terakhir tentang Penghambaan.

Semua ilmu pada akhirnya harus bermuara pada hakikat. Semua ilmu pad aakhirnya harus bermuara pada Allah. bagi yang belajar fisika, matematika, biologi, dan ilmu eksakta harus membawanya kepada Tuhan.

Ketika membantu orang lain karena kasihan itu juga temasuk kesombongan. Memangnya Allah tidak bisa menolong dia sampai kita yang harus menolongnya. Selama ini kita sangat berhati-hati dalam menjaga kesucian lahir namun kita tidak pernah mengkhawatirkan kesucian batin. Kita tidak pernah berpikir bahwa dalam hati kita masih ada sifat dengki, iri, masa bodoh dan seterusnya.

Menurut saya, buku ini sangat sistematis mengarahkan kita untuk mengelaborasi diri sebagai manusia sekaligus sebagai seorang hamba. Meskipun demikian, tentunya untuk menuju pada jalur tersebut membutuhkan komitmen yang kuat dan kerja yang tiada berujung sampai waktu manusia berakhir di dunia.



Saturday, November 19, 2022

Tentang Al Fatihah

Saya sedang membaca buku Dr. Fahruddin Faiz yang berjudul "Menjadi Manusia, Menjadi Hamba." Dalam salah satu babnya diuraikan tentang doa dari berbagai sudut pandang, tentu saja sebagian penjelasannya sudah saya dengar dari berbagai sumber.

Namun ada penjelasan tentang sistematika doa yang membuat saya berpikir bahwa adab berdoa itu tidak memaksa namun harus merayu di awal. Saya merefleksikan diri saya selama ini dan bagaimana adab saya berdoa yang seringkali lebih ke arah meminta.

Setelah salat asar, tiba-tiba saja pikiran saya merefleksikan runutan Al Fatihah yang sesuai dengan penjelasan Dr. Fahruddin Faiz. Runutan doa yang diawali dengan puji puji semacam rayuan.

Al Fatihah dimulai dengan semacam rayuan kepada Sang Khalik misalnya pada ayat pertama tentang menyebut Allah sebagai dzat meliputi alam semesta dan dilanjutkan dengan pujian tentangAllah Swt yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Artinya bahwa kita memuji Allah sebagai Dzat yang meliputi kemurahan dan Maha kasihNya.

Kemudian selanjutnya kita mengakui bahwa Allah Swt menguasai hari pembalasan kemudian kita meyakini bahwa Dia satu-satunya Dzat yang dimintai pertolongan.

Ayat selanjutnya baru memuat doa kita yaitu kita memohon ditunjuki jalan yang lurus, yang dimaksud jalan lurus adalah jalan orang-orang yang telah dianugerahi nikmat bukan jalan orang-orang yang celaka.

Dari susunan Al-Fatihah tersebut menjadi panduan kita bagaimana seharusnya adab kita berdoa kepada Allah Swt. Doa yang seharusnya diawali dengan puja-puji atau dalam bahasa sederhana adalah merayu sebelum kemudian kita menyisipkan permintaan kita sebagai hamba.

Berdoa sama sekali tidak disarankan untuk langsung meminta seperti memalak karena tidak memuat adab yang baik. Bahkan kepada manusia pun, kalau kita meminta bantuan biasanya diawali dengan basa-basi yang tujuannya untuk merayu sebelum mengutakan permintaan bantuan.

Seperti itulah kira-kira adab berdoa.

 


Friday, November 4, 2022

A Brief History of International Trade

 show the clock.

Why did I pick to start this talk with a picture of a clock and Inter'l trade. What does a clock have to with it? Why would we care about it the time? 

this is the first marine clock that work at sea. doesnt seem like much, why would you want to know if you're in this was made in the 1760's? why would you want to know what time it is if you're in the middle east ocean?

until this clock was invented, there was no way to position yourself on the earth, to know where you are, west or east latitude. You couldn't do east or west which made a very dangerous thing to go out to sea and not know where you are. its very risky business. 

This clock revolutionized world trade because it was the first clock that could work under the condition of there's salt water, theres humidity, theres rocking back. this cock invented by John Harrison.

in a very real sense, trade is what makes us human right. 

Sunday, August 7, 2022

Kitalah yang ada di Sini Sekarang

Jostein Gaarder adalah pengarang yang sangat populer dengan karya yang cukup monumental "Dunia Spohie." sebuah buku mampu membumikan filsafat sehingga dapat dinikmati selayaknya novel remaja. Novel yang kemudian mampu merunut cara kerja filsafat dalam hidup kita sehari-hari.

selain novel Dunia Sophie, ada dua karya Jostein Gaarder yang saya baca yaitu "Dunia Anna" dan "Kitalah yang ada di Sini Sekarang." buku yang terakhir saya beli di Gramedia Penvil minggu lalu (30/7/22). Buku yang sebenarnya tidak terlalu tebal untuk sekali dibaca dalam satu kesempatan, namun karena saya terlalu baca pemakluman atas distraksi yang sebenarnya tidak penting sehingga buku tersebut tertunda untuk segera saya tuntaskan.

Nuansa buku ini sangat kental dengan idealisme Jostein sebagai seorang yang peduli terhadap lingkungan. Dimulai dengan bab yang diberi judul "Dunia yang Penuh Keajaiban." Jostein seakan ingin menyampaikan ide tentang dunia ini yang pada sebagian orang dianggap sebagai hal yang normal namun kemudian dia sendiri bertanya "dari mana dunia ini berasal?"

pada bab-bab selanjutnya, Jostein menggambarkan bahwa bagaimana kedekatannya dengan alam dan bagaimana dia sangat engage dengan alam. "Aku selalu menyukai berjalan-jalandi hutan, terutama saat sedang ada persoalan yang akan kupecahkan." kalimat ini mengafirmasi bagaimana Jostein menempatkan alam sebagai sebuah ruang yang kemudian memberikan dia segala hal yang dibutuhkan hanya dengan sekadar berjalan di tengah hutan. Misteri kehidupan ini sama sekali belum terkuak bahwa sebuah fenomena tidak bisa dideteksi tidak berarti bahwa fenomena itu tidak ada.

Pada bab tentang hal-hal supranatural, Jostein menekankan bahwa kemanusiaan di atas segalanya termasuk agama. bahwa manusia dulu dan Kristen kemudian atau manusia dulu dan Muslim kemudian. jadi yang menjadi esensi adalah pertama-tama kita semua bersaudara dalam kemanusiaan. sama halnya manusia dulu dan ateis kemudian karena bahkan orang ateis yang menggebu-gebu juga bisa bersikap intoleran dan "tidak manusiawi. Dalam soal kepercayaan, tidak ada yang punya kunci jawabannya. Jostein mengafirmasi bahwa "apapun yang akan kita yakini atau percayai, yang penting untuk diingat adalah dia tas semua itu kita adalah manusia."

Pada bab Ruang dan Waktu, Jostein memastikan bahwa alam semesta sangat dinamis sehingga mempertanyakan bentuk alam semesta secara keseluruhan tepat pada saat itu adalah sebuah kesia-siaan. Alam semesta sama sekali tak punya "tepat pada saat itu." segala yang terjadi di alam semesta, atau sedang terjadi, semuanya berlangsung dalam kecepatan cahaya. Bintang-bintang terus saling bergerak menjauh dengan kecepatan tinggi. 

Nilai etika dan moral sangat kental pada bab "Kapasitas Planet Bumi." Jostein mengelaborasi bahwa beberapa pertanyaan filsuf sudah terjawab misalnya apa unsur-unsur makhluk hidup yang kemudian ditemukan jawabannya yaitu molekul DNA namun masih banyak permenungan filsuf yang belum selesai seperti Apa nilai terpenting dalam hidup? apakah keadilan itu? Bagaimana bentuk pengaturan masyarakat yang baik? namun ada satu pertanyaan yang sangat penting adalah "bagaimana kita bisa menjaga peradaban manusia dan dasar-dasar kehidupan di planet kita ini?


Saturday, July 23, 2022

Covid-19 Shake the World

By. Slavoj Zizek

Hegel wrote that the only thing we can learn from history is that we learn nothing from history, so I doubt the epidemic will make us any wiser. The only thing that is clear is that the virus will shatter the very foundations of our lives, causing not only an immense amount of suffering but also economic havoc conceivably worse than the Great Recession.

we must recognize that, sometimes, not telling the entire truth to the public can effectively prevent a wave of panic that could lead to more victims.

The really difficult thing to accept is the fact that the ongoing epidemic is a result of natural contingency at its purest, that it just happened and hides no deeper meaning. In the larger order of things, we are just a species with no special importance.

Martin Luther King put it more than half a century ago: “We may have all come on different ships, but we’re in the same boat now.

Byung-Chul Han "Driven by the demand to persevere and not to fail, as well as by the ambition of efficiency, we become committers and sacrificers at the same time and enter a swirl of demarcation, self-exploitation and collapse. When production is immaterial, everyone already owns the means of production him- or herself. The neoliberal system is no longer a class system in the proper sense. It does not consist of classes that display mutual antagonism. This is what accounts for the system’s stability.” Han argues that subjects become self-exploiters: “Today, everyone is an auto-exploiting labourer in his or her own enterprise. People are now master and slave in one. Even class struggle has transformed into an inner struggle against oneself.” The individual has become what Han calls “the achievement-subject”; the individual does not believe they are subjugated “subjects” but rather “projects: Always refashioning and reinventing ourselves” which “amounts to a form of compulsion and constraint—indeed, to a more efficient kind of subjectivation and subjugation. As a project deeming itself free of external and alien limitations, the I is now subjugating itself to internal limitations and self-constraints, which are taking the form of compulsive achievement and optimization."

We are bombarded by calls to work from home, in safe isolation. But which groups can do this? Precarious intellectual workers and managers who are able to cooperate through email and teleconferencing, so that even when they are quarantined their work goes on more or less smoothly. They may gain even more time to “exploit ourselves.” But what about those whose work has to take place outside, in factories and fields, in stores, hospitals and public transport? Many things have to take place in the unsafe outside so that others can survive in their private quarantine.

last but not least, we should avoid the temptation to condemn strict self-discipline and dedication to work and propagate the stance of “Just take it easy!”—Arbeit macht frei! (“Work sets you free”) is still the right motto, although it was brutally misused by the Nazis. Yes, there is hard exhaustive work for many who deal with the effects of the epidemics—but it is a meaningful work for the benefit of the community which brings its own satisfaction, not the stupid effort of trying to succeed in the market. When a medical worker gets deadly tired from working overtime, when a caregiver is exhausted by a demanding charge, they are tired in a way that is different from the exhaustion of those driven by obsessive career moves. Their tiredness is worthwhile.


Glossaries:

discernible (Visible). Proximity (Closeness). Corporeal (Bodily,pysical). injuction (ruling, order).  protract (continuous). exert (use). impenetrable (unpassable). cadres (kader). undermine (ruin, harm). denounce (criticize, blame). imposture (fraud, deceit). blistering (inveigh, kritik keras). annihilate (destroy). compell (force). retain (hold, keep). onslaught (serangan gencar). slain (killed). lethal (deadly). ruthless (cruel). prevail (dominate). predicament (kondisi sulit). debilitating (weaken). seduce (persuade, tempt). precarious (critical). deceptive (bersifat menipu). 

Buku 2026 (2)

Buku kedua yang saya lumat selama seharian di Januari 2026 adalah buku perjalanan spiritual Mohammad Zaim. Buku tentang perjalanan panjang t...