Saturday, November 26, 2022

Mahabbah Cinta (Mengarungi Samudera Cinta Rabi'ah Al-Adawiyah)




Judul               : Mahabbah Cinta (Mengarungi Samudera Cinta Rabi'ah Al-Adawiyah)
Penulis            : Asfari MS & Otto Sukatno CR
Penerbit          : Pustaka Hati
Cetakan          : Cetakan ke-2, Desember 2020
Halaman        : 180 Halaman

Rabi'ah Al-Adawiyah adalah sufi perempuan termasyur akan cintanya yang suci kepada Tuhan bahkan sampai memutuskan tidak menikah untuk menjaga kesucian cintanya. Beliau dikenal dengan syair-syairnya yang melambangkan agungnya cinta tertanam dalam hati. Dalam beribadah, beliau tidak mengharapkan iming-iming surga dan tidak takut pada siksa neraka namun semata untuk mendapatkan ridha Allah Swt.

Dalam buku ini dituliskan sejarah singkat kelahiran Rabi'ah. Ada dua pendapat yang menyatakan kapan Rabi'ah lahir. Menurut Harun Nasution, M Mastury, dan Abuddin Nata bahwa Rabi'ah lahir tahun 714 M sedangkan sumber lain mengatakan bahwa beliau lahir antara tahun 713 atau 717 M. Rabi'ah dilahirkan di Irak tepatnya di Basrah.

Rabi'ah lahir dari orang tua yang miskin sebagai anak bungsu dari empat bersaudara. Dikisahkan ketika menjelang beliau dilahirkan, ayahnya harus ke tetangga meminjam sarung untuk menutupi badannya. Tidak sampai di situ, di umur yang masih belia, Rabi'ah ditinggal mati kedua orang tuanya.

Di suatu masa, Basrah dilanda bencana kelaparan dan menyebabkan ketiga kakaknya meninggal sehingga Rabi'ah tinggal sebatang kara.  Penderitaan Rabi'ah tidak berhenti di situ karena beliau dijadikan budak dan dibayar murah dengan pekerjaan yang cukup berat. Ketika menjadi budak, Rabi'ah bermunajat kepada Allah yang didengar oleh tuannya. Munajat Rabi'ah melunakkan hati tuannya sehingga membebaskannya.

Rabi'ah memilih menjadi perawan bukan karena tidak ada yang meminangnya bahkan orang-orang besar saat itu meminang beliau namun ditolak. 

Rabi'ah menolak lamaran Abdul Wahid bin zaid dengan berkata:

”Hai orang yang bernafsu, carilah wanita lain yang juga bernafsu sebagaimana dirimu. Apakah kau melihat tanda birahi dalam diriku?”

 Penolakan Rabi'ah terhadap Muhammad bin Sulaiman, Amir Abbasiyah untuk Basrah ketika ditawarkan mas kawin 100 dirham “Hal itu tidak menyenangkanku, kamu akan jadi budakku dan semua yang kau miliki akan menjadi milikku” 

Rabi'ah menolak lamaran Hasan Basri dengan memberikan pertanyaan filosofis yang tidak mampu dijawab oleh Hasan Basri.

Ada dua hal yang membentuk mahabbah cinta Rabi'ah yaitu bekal dan pengalaman hidup yang diwarisi dari orang tuanya. Petuah ayahnya yang selalu diingatnya adalah tidak mencaci dan menyakiti perasaan manusia. Kedua, kondisi sosial masa kecilnya yang penuh dengan kekacauan sehingga menimbulkan kemiskinan, kelaparan dan perbudakan.

"Aku akan menyalakan api di dalam surga dan menyiramkan air ke neraka hingga tersingkaplah tabir yang menutup jalan orang-orang yang menuju kepada Allah akan jelas tujuan mereka, dan akan mereka saksikan Allah. Mereka dihalau oleh harapan dan tidak pula oleh rasa takut. Apakah jika tidak ada surga dan neraka, tidak ada lagi orang yang beribadah dan menaati Allah Swt?"


Menjadi Manusia, Menjadi Hamba

 

Judul               : Menjadi Manusia Menjadi Hamba
Penulis            : Fahruddin Faiz
Penerbit          : Noura Books
Cetakan          : Cetakan ke-3, September 2021
Halaman        : 309 Halaman

Filsafat merupakan bidang kajian ilmu yang masih menyisakan perdebatan baik perdebatan dalam tataran teologis mengenai boleh tidaknya mempelajari filsafat bagi seorang theis termasuk dalam posisi epistemologis yaitu bagaimana cara terbaik memahami filsafat. 

Dr. Fahruddin Faiz dikenal sebagai sosok dosen filsafat yang mampu menjelaskan filsafat dengan bahasa yang membumi sehingga mampu dipahami oleh semua kalangan. Beliau mengampu ngaji filsafat yang diadakan secara rutin di masjid Sudirman Yogyakarta yang sudah berlangsung sejak tahun 2013. Dari serangkaian ngaji filsafat yang sudah berlangsung hampir 1 dekade, lahirnya buku yang berjudul "Menjadi Manusia Menjadi Hamba."

Bagi yang sering mengikuti ngaji filsafat baik secara langsung maupun melalui video youtube kemudian membaca buku "Menjadi Manusia Menjadi Hamba," pasti langsung familiar dengan diksi yang ada di buku tersebut. Dalam artian bahwa buku yang sekarang dibahas adalah manuskrip dari series ngaji filsafat.

Penulis membagi buku dalam tiga bagian yaitu Manusia, Waktu, dan Penghambaan. Pada bagian Manusia, penulis mengelaborasi tentang hakikat manusia dalam 5 dimensi yaitu fitrah manusia, humor, pernikahan, doa, dan main-main dalam hidup.

Secara harfiah, fitrah diartikan sebagai tabiat, penciptaan, dan asal kejadian. Karakter fitrah manusia dalam Al Qur'an ada empat yaitu basyar - level fisik jasmaniah manusia, level ins (jinak)  dalam artian beradab, bisa diatur, dan patuh terhadap aturan. Level insan merujuk pada aspek akal budi. level nas - manusia secara kolektif atau umum. Sedangkan dari perspektif filsafat manusia dilihat dari tiga hal, manusia tujuan akhir penciptaan, manusia adalah mikrokosmos, dan manusia adalah cermin Tuhan.

Fitrah memiliki kecenderungan positif yaitu beragama, kecenderungan pada kebenaran, kecenderungan pada akhlak, kecenderungan pada keadilan, kebebasan, cenderung pada keindahan, kebersihan, dan kesucian, fitrah keturunan.

Humor merupakan fitrah manusia yang lain. Dalam Islam, tertawa itu boleh agar hati manusia tidak mati meski hati-hati karena overdosis ketawa juga bisa mengeraskan hati. Ontologi humor menurut Bergson bahwa manusialah makhluk lucu, ketika melihat monyet naik sepeda, yang lucu itu bukan monyetnya tetapi ketika memandangnya lucu karena kita melihat sisi manusianya.

Dalam Islam dikenal istilah la rahbaniyyah-tidak ada kerahiban dalam Islam, meskipun ada sufi yang tidak menikah bukan karena mereka mengharamkan nikah namun karena ada pertimbangan tersendiri. 

Tujuan menikah antara lain tujuan biologis, psikologis, tujuan sosial dan religius. Sedangkan manfaat pernikahan yaitu sense of purpose, drive to work hard, happiness chances, constant support, selfness, dan better physical and mental health.

Terkait doa, manusia itu lemah karena beberapa karakternya yaitu manusia itu tidak berdaya, ia tidak pasti, terbatas, dan mengandung banyak ketidakmungkinan. Kata Soren Kierkegaard " prayer doesnt change God, but it changes him who prays." Sedangkan Graham Dienert berkata "many people prays as if God were a big aspirin pill, the come only when they hurt."

Kalau anda berdoa dan lama tidak dikabulkan, coba anda teliti apakah ada hak orang lain yang masih terikut dengan anda atau barangkali anda punya kesalahan pada orang lain yang masih menjadi ganjalannya.

Hidup ini thinking, working, and playing. kalau tidak berpikir, maka dia bukan manusia. Kalau tidak kerja, untuk apa jadi manusia, kalau tidak bermain, serius amat jadi manusia. Bila hidup anda adlaha permainan, nikmatilah setiap naik turunnya gelombang permainan hidup, serunya di situ. Terkadang anda tertawa ketika sukses, terkadang menagis karena sedih, tapi ingatlah itu hanya akting. Sebenarnya Tuhan sedang bermain petak umpet dengna kita. Kita disuruh mencari Tuhan, disuruh mengenal Tuhan.

Pada bagian dua tentang waktu. Waktu linear berbicara tentang waktu yang jalan terus dan tidak mungkin balik. Waktu sirkular memandang waktu itu berputar dan tidak jalan lurus. Waktu akan balik lagi dari segi kualitas seperti roda berputar. Waktu objektif dan subjektif.

Menurut Agustinus salah satu filsuf skolastik, masa lalu dan mas depan itu tidak ada yang ada hanya masa kini. Menurutnya kemarin itu adalah mas kini di masa tersebut begitupun dengan esok hari. Kalau mengkhawatirkan hidup anda bakal suram lalu anda sedih, perlu dipahami bahwa suramnnya itu baru besok dan itu pun juga belum pasti, lalu buat apa sedih sekarang untuk hal yang belum pasti.

Agustinus sampai pada kesimpulan bahwa kunci waktu adalah mental manusia. Manusialah yang mengklasifikasi waktu. Manusialah yang memahami waktu, mengingat masa lalu dan menikmati masa kini lalu membayangkan masa depan.

 Manusia harus mewaktu aritnya "mengada dalam waktu." Manusia punya makna hidup sendiri bukan sekadar ikut-ikutan orang lain. bila suka berorganisasi, putuskan yang terbaik oleh dirimu sendiri bukan karena ikut orang lain, itulah yang dinamakan eksis-mengada dalam waktu.

Bagian terakhir tentang Penghambaan.

Semua ilmu pada akhirnya harus bermuara pada hakikat. Semua ilmu pad aakhirnya harus bermuara pada Allah. bagi yang belajar fisika, matematika, biologi, dan ilmu eksakta harus membawanya kepada Tuhan.

Ketika membantu orang lain karena kasihan itu juga temasuk kesombongan. Memangnya Allah tidak bisa menolong dia sampai kita yang harus menolongnya. Selama ini kita sangat berhati-hati dalam menjaga kesucian lahir namun kita tidak pernah mengkhawatirkan kesucian batin. Kita tidak pernah berpikir bahwa dalam hati kita masih ada sifat dengki, iri, masa bodoh dan seterusnya.

Menurut saya, buku ini sangat sistematis mengarahkan kita untuk mengelaborasi diri sebagai manusia sekaligus sebagai seorang hamba. Meskipun demikian, tentunya untuk menuju pada jalur tersebut membutuhkan komitmen yang kuat dan kerja yang tiada berujung sampai waktu manusia berakhir di dunia.



Saturday, November 19, 2022

Tentang Al Fatihah

Saya sedang membaca buku Dr. Fahruddin Faiz yang berjudul "Menjadi Manusia, Menjadi Hamba." Dalam salah satu babnya diuraikan tentang doa dari berbagai sudut pandang, tentu saja sebagian penjelasannya sudah saya dengar dari berbagai sumber.

Namun ada penjelasan tentang sistematika doa yang membuat saya berpikir bahwa adab berdoa itu tidak memaksa namun harus merayu di awal. Saya merefleksikan diri saya selama ini dan bagaimana adab saya berdoa yang seringkali lebih ke arah meminta.

Setelah salat asar, tiba-tiba saja pikiran saya merefleksikan runutan Al Fatihah yang sesuai dengan penjelasan Dr. Fahruddin Faiz. Runutan doa yang diawali dengan puji puji semacam rayuan.

Al Fatihah dimulai dengan semacam rayuan kepada Sang Khalik misalnya pada ayat pertama tentang menyebut Allah sebagai dzat meliputi alam semesta dan dilanjutkan dengan pujian tentangAllah Swt yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Artinya bahwa kita memuji Allah sebagai Dzat yang meliputi kemurahan dan Maha kasihNya.

Kemudian selanjutnya kita mengakui bahwa Allah Swt menguasai hari pembalasan kemudian kita meyakini bahwa Dia satu-satunya Dzat yang dimintai pertolongan.

Ayat selanjutnya baru memuat doa kita yaitu kita memohon ditunjuki jalan yang lurus, yang dimaksud jalan lurus adalah jalan orang-orang yang telah dianugerahi nikmat bukan jalan orang-orang yang celaka.

Dari susunan Al-Fatihah tersebut menjadi panduan kita bagaimana seharusnya adab kita berdoa kepada Allah Swt. Doa yang seharusnya diawali dengan puja-puji atau dalam bahasa sederhana adalah merayu sebelum kemudian kita menyisipkan permintaan kita sebagai hamba.

Berdoa sama sekali tidak disarankan untuk langsung meminta seperti memalak karena tidak memuat adab yang baik. Bahkan kepada manusia pun, kalau kita meminta bantuan biasanya diawali dengan basa-basi yang tujuannya untuk merayu sebelum mengutakan permintaan bantuan.

Seperti itulah kira-kira adab berdoa.

 


Friday, November 4, 2022

A Brief History of International Trade

 show the clock.

Why did I pick to start this talk with a picture of a clock and Inter'l trade. What does a clock have to with it? Why would we care about it the time? 

this is the first marine clock that work at sea. doesnt seem like much, why would you want to know if you're in this was made in the 1760's? why would you want to know what time it is if you're in the middle east ocean?

until this clock was invented, there was no way to position yourself on the earth, to know where you are, west or east latitude. You couldn't do east or west which made a very dangerous thing to go out to sea and not know where you are. its very risky business. 

This clock revolutionized world trade because it was the first clock that could work under the condition of there's salt water, theres humidity, theres rocking back. this cock invented by John Harrison.

in a very real sense, trade is what makes us human right. 

Sunday, August 7, 2022

Kitalah yang ada di Sini Sekarang

Jostein Gaarder adalah pengarang yang sangat populer dengan karya yang cukup monumental "Dunia Spohie." sebuah buku mampu membumikan filsafat sehingga dapat dinikmati selayaknya novel remaja. Novel yang kemudian mampu merunut cara kerja filsafat dalam hidup kita sehari-hari.

selain novel Dunia Sophie, ada dua karya Jostein Gaarder yang saya baca yaitu "Dunia Anna" dan "Kitalah yang ada di Sini Sekarang." buku yang terakhir saya beli di Gramedia Penvil minggu lalu (30/7/22). Buku yang sebenarnya tidak terlalu tebal untuk sekali dibaca dalam satu kesempatan, namun karena saya terlalu baca pemakluman atas distraksi yang sebenarnya tidak penting sehingga buku tersebut tertunda untuk segera saya tuntaskan.

Nuansa buku ini sangat kental dengan idealisme Jostein sebagai seorang yang peduli terhadap lingkungan. Dimulai dengan bab yang diberi judul "Dunia yang Penuh Keajaiban." Jostein seakan ingin menyampaikan ide tentang dunia ini yang pada sebagian orang dianggap sebagai hal yang normal namun kemudian dia sendiri bertanya "dari mana dunia ini berasal?"

pada bab-bab selanjutnya, Jostein menggambarkan bahwa bagaimana kedekatannya dengan alam dan bagaimana dia sangat engage dengan alam. "Aku selalu menyukai berjalan-jalandi hutan, terutama saat sedang ada persoalan yang akan kupecahkan." kalimat ini mengafirmasi bagaimana Jostein menempatkan alam sebagai sebuah ruang yang kemudian memberikan dia segala hal yang dibutuhkan hanya dengan sekadar berjalan di tengah hutan. Misteri kehidupan ini sama sekali belum terkuak bahwa sebuah fenomena tidak bisa dideteksi tidak berarti bahwa fenomena itu tidak ada.

Pada bab tentang hal-hal supranatural, Jostein menekankan bahwa kemanusiaan di atas segalanya termasuk agama. bahwa manusia dulu dan Kristen kemudian atau manusia dulu dan Muslim kemudian. jadi yang menjadi esensi adalah pertama-tama kita semua bersaudara dalam kemanusiaan. sama halnya manusia dulu dan ateis kemudian karena bahkan orang ateis yang menggebu-gebu juga bisa bersikap intoleran dan "tidak manusiawi. Dalam soal kepercayaan, tidak ada yang punya kunci jawabannya. Jostein mengafirmasi bahwa "apapun yang akan kita yakini atau percayai, yang penting untuk diingat adalah dia tas semua itu kita adalah manusia."

Pada bab Ruang dan Waktu, Jostein memastikan bahwa alam semesta sangat dinamis sehingga mempertanyakan bentuk alam semesta secara keseluruhan tepat pada saat itu adalah sebuah kesia-siaan. Alam semesta sama sekali tak punya "tepat pada saat itu." segala yang terjadi di alam semesta, atau sedang terjadi, semuanya berlangsung dalam kecepatan cahaya. Bintang-bintang terus saling bergerak menjauh dengan kecepatan tinggi. 

Nilai etika dan moral sangat kental pada bab "Kapasitas Planet Bumi." Jostein mengelaborasi bahwa beberapa pertanyaan filsuf sudah terjawab misalnya apa unsur-unsur makhluk hidup yang kemudian ditemukan jawabannya yaitu molekul DNA namun masih banyak permenungan filsuf yang belum selesai seperti Apa nilai terpenting dalam hidup? apakah keadilan itu? Bagaimana bentuk pengaturan masyarakat yang baik? namun ada satu pertanyaan yang sangat penting adalah "bagaimana kita bisa menjaga peradaban manusia dan dasar-dasar kehidupan di planet kita ini?


Saturday, July 23, 2022

Covid-19 Shake the World

By. Slavoj Zizek

Hegel wrote that the only thing we can learn from history is that we learn nothing from history, so I doubt the epidemic will make us any wiser. The only thing that is clear is that the virus will shatter the very foundations of our lives, causing not only an immense amount of suffering but also economic havoc conceivably worse than the Great Recession.

we must recognize that, sometimes, not telling the entire truth to the public can effectively prevent a wave of panic that could lead to more victims.

The really difficult thing to accept is the fact that the ongoing epidemic is a result of natural contingency at its purest, that it just happened and hides no deeper meaning. In the larger order of things, we are just a species with no special importance.

Martin Luther King put it more than half a century ago: “We may have all come on different ships, but we’re in the same boat now.

Byung-Chul Han "Driven by the demand to persevere and not to fail, as well as by the ambition of efficiency, we become committers and sacrificers at the same time and enter a swirl of demarcation, self-exploitation and collapse. When production is immaterial, everyone already owns the means of production him- or herself. The neoliberal system is no longer a class system in the proper sense. It does not consist of classes that display mutual antagonism. This is what accounts for the system’s stability.” Han argues that subjects become self-exploiters: “Today, everyone is an auto-exploiting labourer in his or her own enterprise. People are now master and slave in one. Even class struggle has transformed into an inner struggle against oneself.” The individual has become what Han calls “the achievement-subject”; the individual does not believe they are subjugated “subjects” but rather “projects: Always refashioning and reinventing ourselves” which “amounts to a form of compulsion and constraint—indeed, to a more efficient kind of subjectivation and subjugation. As a project deeming itself free of external and alien limitations, the I is now subjugating itself to internal limitations and self-constraints, which are taking the form of compulsive achievement and optimization."

We are bombarded by calls to work from home, in safe isolation. But which groups can do this? Precarious intellectual workers and managers who are able to cooperate through email and teleconferencing, so that even when they are quarantined their work goes on more or less smoothly. They may gain even more time to “exploit ourselves.” But what about those whose work has to take place outside, in factories and fields, in stores, hospitals and public transport? Many things have to take place in the unsafe outside so that others can survive in their private quarantine.

last but not least, we should avoid the temptation to condemn strict self-discipline and dedication to work and propagate the stance of “Just take it easy!”—Arbeit macht frei! (“Work sets you free”) is still the right motto, although it was brutally misused by the Nazis. Yes, there is hard exhaustive work for many who deal with the effects of the epidemics—but it is a meaningful work for the benefit of the community which brings its own satisfaction, not the stupid effort of trying to succeed in the market. When a medical worker gets deadly tired from working overtime, when a caregiver is exhausted by a demanding charge, they are tired in a way that is different from the exhaustion of those driven by obsessive career moves. Their tiredness is worthwhile.


Glossaries:

discernible (Visible). Proximity (Closeness). Corporeal (Bodily,pysical). injuction (ruling, order).  protract (continuous). exert (use). impenetrable (unpassable). cadres (kader). undermine (ruin, harm). denounce (criticize, blame). imposture (fraud, deceit). blistering (inveigh, kritik keras). annihilate (destroy). compell (force). retain (hold, keep). onslaught (serangan gencar). slain (killed). lethal (deadly). ruthless (cruel). prevail (dominate). predicament (kondisi sulit). debilitating (weaken). seduce (persuade, tempt). precarious (critical). deceptive (bersifat menipu). 

Saturday, March 5, 2022

Studi dan Teori Hubungan Internasional

Judul             : Studi & Teori Hubungan Internasional (Arus Utama, Alternatif dan Reflektif)

Penulis          : Bob Sugeng Hadiwinata

Penerbit         : Yayasa Pustaka Obor Indonesia

Tahun            : 2017

Buku ini terdiri dari 4 bagian dan 12 bab.

Bab 1 mengelaborasi mengenai studi hubungan internasional sebagai sebuah disiplin ilmu. Perbedaan ilmu HI yang berkembang di Inggris dan di AS. Tradisi berpikir di Inggris cenderung historis-filosofis sedangkan tradisi berpikir AS sangat saintifik-positivistik. HI yang berkembang di Inggris dari akar filsafat sedangkan di AS serikat berangkat dari ilmu politik. Pada perkembangannya, perspektif Inggris lebih mengutamakan historical tracing  sedangkan AS berkarakter saintifik yang positifistik. Perbedaan akar sejarah perkembangan HI di kedua negara tersebut juga berdampak pada terminologi yang digunakan. di Inggris sering menggunakan istilah "studi hubungan internasional" sedangkan AS menggunakan "Ilmu hubungan internasional".

Perkembangan ilmu HI kemudian melahirkan beberapa teori yang digunakan dalam proses identifikasi fenomena yang terjadi. kegunaan teori HI sekurang-kurangnya menyangkut 3 hal: (1) to describe. (2) to explain. (3) to predict

Secara umum, ilmu HI yang berkembang di seluruh dunia saat ini mengandung perspektif krusial:
  1. Perspektif Inggris, 1919-sekarang: Metode historis/tradisionil; liberalisme/idealisme, english school (realisme/Hobbes, rasionalisme/Grotius, idealisme/Kant), Critical Theory (Linklater)
  2. Perpektif Amerika Serikat;1940-sekarang: metode saintifik/Positivis; realisme/neo-realisme, neo-liberal institusionalisme, kajian politik ekonomi internasional
  3. Perspektif Skandinavia: 1970-sekarang: Metode historis interpretatif, studi konflik dan perdamaian, teori Sekuritisasi dan keamanan non-Tradisional (Copenhagen School)
  4. Eropa Daratan/Perancis, Jerman: 1990an-sekarang: metode hermeneutika-interpretatif, Posmodernisme, teori Konstruktivisme (Friedrich Kratochwil, Nicolas Onuf, dan Alexander Wendt)
Bab 2 menjelaskan tentang sejarah perkembangan HI di Indonesia yang sangat dipengaruhi oleh perspektif AS. HI sebagai cabang ilmu di Indonesia berawal pada era 1950-an tepatnya pada tanggal 10 Juli 1957, didirikan departemen hubungan internasional di universitas Gajahmada. HI yang berkembang di universitas Gajahmada sangat bercorak AS karena peran pakar HI universitas John Hopkins yang menyusun kurikulum HI yang diketuai prof. Donald Weatherbee.

Bab 4 menjelaskan perdebatan besar dalam studi HI. Perdebatan besar pertama terjadi pada dekade 1940-an ketika dunia menghadapi tantangan besar akibat kegagalan liga bangsa-bangsa dalam menegakkan perdamaian dunia pasca Perang Dunia I (1914-1919). Saat itu, pemikir realisme seperti E.H Carr dan Morghentau melakukan serangan terhadap pemikir idealis seperti Alfred Zimmern, Normal Angell

Perdebatan kedua terjadi pada dekade 1960an ketika sejumlah pemikir HI seperti Morton A Kaplan dan Karl Deutsch, Kenneth Waltz menyadari pentingnya penerapan metode saintifik yang memfokuskan pada objektivitas penelitian dan penerapan metode ilmiah yang mengacu pada pencarian hubungan antara variabel penelitian, pengujian teori dan validasi data dalam HI untuk menjadikan studi HI sebagai disiplin ilmu yang memenuhi karakter ilmiah. Upaya tersebut mendapat resistensi dari kaum historis atau tradisionalis misalnya Hedley Bull yang menyatakan bahwa metode historis yang lebih menekankan pada sekuensi sejarah adalah metode yang paling tepat bagi studi HI.

Perdebatan besar ketiga tejadi sejak 1970an tampak lebih kompleks daripada perdebatan sebelunya. perdebatan ketika merupakan perdebatan post positivis (teori reflektivitas, teori kritis, feminisme, posmodernisme dan konstruktivisme berhadapan dengan positivis empiris (neo-realisme dan neo liberalisme)


Buku 2026 (2)

Buku kedua yang saya lumat selama seharian di Januari 2026 adalah buku perjalanan spiritual Mohammad Zaim. Buku tentang perjalanan panjang t...