Monday, June 19, 2023

Senjakala Modernitas


Penulis                    : Irfan Afifi

Penerbit                    : Ircisod

Tahun Terbit             : 2019

Halaman                    : 200           




Modernitas sebagai sebuah arus besar kebudayaan dan pola pikir yang bersandar pada ide aufklarung. Perdebatan tentang kapan era modernitas dimulai memang muncul di beberapa kalangan namun secara umum, modernitas diidentikkan dengan zaman pencerahan yang dimulai sejak renaissance dan reformasi gereja. Sementara post-modernisme pada dasarnya merupakan kritik atas cacat yang ditimbulkan dalam diri modernitas. kekecewaan atas prinsip universalisme menciptakan totalitarianisme.

Habermas setia mempertahankan ide-ide dan proyek modernitas beserta rasionalitasnya dalam menghadapi serangan kaum post-modern maupun kalangan lain karena menurutnya bahwa kritik yang diarahkan kepada modernitas bersifat parsial dan mengesampingkan aspek emansipatif proyek rasionalitas pencerahan sehingga kritik yang diarahkan pada modernitas sifatnya total dan radikal sehingga kritik berujung pada negasi total modernitas dan rasionalitasnya.

Menurut Habermas bahwa kritik tidak seharusnya bersifat total. Menurut Habermas bahwa krisis dalam modernitas berpangkal pada konsep otonomi subjek rasional yang dikembangkan oleh Descartes sampai Kant sebagai humanisme barat. Poin inilah yang dipandang para post-modern sebagai akar budaya modern yang telah bangkrut.


Wednesday, June 14, 2023

Sebelum Filsafat


Judul            : Sebelum Filsafat
Penulis          : Fahrudin Faiz
Penerbit        : MJS Press
Tahun            : 2018
Halaman        : 210 








Sebelum filsafat adalah buku yang penting dibaca oleh para akademisi bahkan masyarakat umum. Buku ini bukan seperti buku filsafat yang njlimet. Ada begitu banyak pola berpikir yang saya dapatkan dari buku ini termasuk ketika sedang membaca dan menulis. 

Saya akan mengutip dan menyalin beberapa poin penting dari buku untuk sekadar mengingatkan saya inti dari buku yang sedang saya baca. Mungkin untuk bagian pembahasan filsafat tidak akan banyak saya uraikan namun lebih pada poin-poin yang bersifat umum saja.

Menurut pak Faiz, hidup secara bijaksana adalah hidup dalam kondisi dan posisi yang pas.

Ada lima instrumen pengetahuan yang dijelaskan oleh pak Faiz dan kelima instrumen tersebut harus digunakan sesuai konteksnya. 

Selanjutnya, jika ingin memperkuat dasar dalam ilmu pengetahuan, bacalah buku ini.


Ya'qub bin Ishaq Al-Kindi

Filsafat Parepatik semacam cara berfilsafat Aristotels dan murid-muridnya. Ajaran aristoteles disebarkan oleh murid-muridnya, salah satunya yang menyebarkan adalah Alexander the Great (Iskandar Zulkarnain) yang selanjutnya dikenal sebagai helenisme yang berpusat di Alexandria (Iskandariyah), daerah Mesir yang sekarang jadi kota Pelabuhan. Helenisme kemudian diwarisi filsuf Muslim antara lain Al-Kindi, AL Farabi, Ibnu Sina dkk.

Setelah itu, filsafat Peripatetik kemudian bergerak ke Barat. Dalam tradisi filsafat kristen, ada yang dikenal Thomisme yang dipelopori oleh Thomas Aquinas, biasanya disebut filsafat latin. Latin adalah bahasa resmi kekaisaran Romawi.

Sekitar tahun 801-873 M, lahir seorang filsuf yang dikenal sebagai bapak filsuf Arab pertama, Ya'qub bin Ishaq Al-Kindi, putra gubernur Kufa. Menguasai begitu banyak bidang keilmuan. Hidup ketika masa kejayaan Islam pada zaman dinasti Abbasiyah. Hal yang mempengaruhi pemikiran Al-Kindi yaitu Mu'tazilah (cara berpikir rasional), Aristoteles, dan Plotinus.

Menurut Al-Kindi, filsafat adalah ilmu tentang hakekat (kebenaran) sesuatu menurut kesanggupan manusia, yang mencakup ketuhanan, Keesaan, ilmu keutamaan, dan ilmu tentang semua yang berguna dan cara memperolehnya, serta menjauhi perkara yang merugikan.

Tujuan seorang filosof bersifat teori yaitu kebenaran dan bersifat amalan yaitu mewujudkan kebenaran tersebut dalam tindakan. 

Berpikir Kritis

 

Judul               : Berpikiri Kritis

Penulis            : Dr. Saifur Rohman, M.Hum

Penerbit          : Pustaka Alvabet

Cetakan          : Cetakan ke-1, Desember 2021

Tebal Buku     : 272 Halaman

Berpikir adalah tentang segala sesuatu. Berpikir kritis adalah model berpikir yang memiliki langkah-langkah spesifik, seperti memahami, meragukan, mengetes, dan membangun ulang. Dalam kehidupan sehari-hari, seringkali kita menjumpai sesaat berpikir misalnya berargumentasi dengan ancaman, argumentasi dengan merendahkan, argumentasi dengan memojokkan, argumentasi karena tidak tahu, argumentasi karena belas kasihan, argumentasi karena populer, argumentasi karena kekuasaan, argumentasi karena menyamaratakan kasus, pembalikan perkecualian, argumentasi karena sebab palsu, argumentasi dengan pernyataan berbelit-belit dan argumentasi dengan pertanyaan basa-basi.
Berfikir kritis tidak selalu pada aspek ketidaksepakatan pada suatu hal tetapi proses bagaimana kita kemudian menentukan sikap dengan melihat secara komprehensif semua hal yang berkelindan dalam isu yang sedang dibicarakan. Berfikir kritis menemukan tantangannya yang cukup berat di era media sosial ketika konten menjadi sebuah kebenaran. Tanpa berfikir kritis, maka kita akan menjadi mangsa pada ciptaan manusia yang bernama teknologi.


Moneter Dalam Perdagangan Internasional

Kita terlalu sering membaca atau mengucapkan banyak konsep dalam bidang yang sedang dijalani namun seringkali apa yang diucapkan maupun dibaca tidak benar-benar dipahami dengan baik.
Saya tertampar dengan pernyataan pak Faiz bahwa mungkin sebagian dari kita tidak memahami apa yang diucapkan meskipun mungkin sudah sangat umum. Berangkat dari sini, saya berhati-hati untuk mengucapkan konsep yang dianggap sudah umum namun memiliki definisi yang abstrak sehingga harus dipahami secara mendalam.

Kita sering mengucapkan kebijakan fiskal dan kebijakan moneter bahkan mungkin beberapa kali kesempatan waktu masih kuliah S1, kita ikut-ikutan memprotes kebijakan moneter yang dianggap berdampak terhadap rakyat, namun apakah kita benar-benar sudah mengetahui dengan detail, apa itu fiskal dan moneter?

Moneter atau monetari secara etimologi berarti segala sesuatu yang terkait dengan yang. Moneter adalah segala hal yang berkaitan dengan uang, termasuk mata uang dan kebijakan-kebijakan makro dalam hal pengaturan uang oleh sebuah negara. Kebijakan yang dimaksud meliputi pengaturan pasokan uang, tingkat suku bunga, dan stabilitas nilai tukar.

Fiskal sendiri atau fiscus diartikan sebagai kotak uang yang menggambarkan sumber daya keuangan negara. Kebijakan fiskal berkaitan dengan pendapatan dan pengeluaran negara termasuk kebijakan mengenai pajak. Kebijakan fiskal terwujud dalam APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara). Dalam dokumen APBN, kita dapat melihat berapa pendapatan pemerntah, dari mana saja pendapatan tersebut, komposisi pendapatan, penduduk mana atau siapa yang terkena beban tinggi dan beban rendah dari total pendapatan pemerintah, untuk apa saja pendapatan pemerintah,

Tingkat suku bunga adalah harga yang harus dibayarkan oleh peminjam untuk mendapatkan akses ke dana yang dipinjamkan/diinvestasikan.

Tuesday, June 6, 2023

Dilarang Mengutuk Hujan

Rincian Buku:

Penulis

:

Iqbal Aji Daryono

Penerbit

:

DIVA Press

Tahun terbit

:

2021

ISBN

:

9786232932357

Halaman

:

166

Buku kumpulan tulisan mas Iqbal yang merupakan refleksi dari apa yang dialami sehari-hari.  Kemampuannya dalam tulisan story telling membuat tulisannya mudah dinikmati. Di beberapa pembuka tulisannya, selalu dimulai dengan cerita-cerita sederhana yang kemudian akan dilanjutkan dengan ide pokok yang akan disampaikannya.

"Lenyapnya Sawah-Sawah Kami" merupakan tulisan yang ingin menyampaikan kepada pembaca bahwa sistem yang ada sekarang sama sekali tidak berpihak kepada kehidupan para petani yang merupakan penggerak utama makanan pokok. Sawah-sawah yang disulap menjadi perumahan merupakan akumulasi dari kondisi ketidakmampuan petani bertahan di tengah sistem yang mendiskriminasi mereka. Modal yang dikeluarkan untuk menanam padi jauh lebih besar dari kemungkinan keuntungan yang akan didapatkan sehingga mereka menganggap bahwa lebih baik menjual sawah untuk investasi anak-anak mereka untuk biaya masuk tentara.

"Perjalanan Sakral." Tulisan ini mengkritisi orang-orang yang selalu mengkalkulasi apa-apa dengan materi. Mudik contoh serta ibadah haji dan umrah. Beberapa tahun lalu, seorang yang menganggap dirinya terdidik mengkritisi ibadah haji dan umrah yang menelan biaya hampir 30 T. Dia mengasumsikan bahwa dana tersebut bisa digunakan untuk membangun sekitar 600 ribu rumah untuk orang miskin. Iqbal memberikan pandangannya bahwa tidak semua diukur dengan uang. Niat umat yang haji atau umrah tersebut bukan tiba-tiba namun sudah berlangsung lama. Jika seandainya mereka tidak berniat untuk itu maka tentu saja uang itu mungkin tidak ada. Secara sederhana, uang itu ada sesuai dengan peruntukannya, tidak bisa ditukar dengan kebutuhan atau kepentingan lain.

"Agama Perang." Tindakan teroris yang mengatasnamakan Islam tentu saja merusak nama Islam. Realitas tersebut harus disadari bahwa maraknya tindakan teroris akhir-akhir ini selalu disandingkan dengan kata jihad yang diartikan serampangan oleh masyarakat umum sebagai perang atas nama Islam. Iqbal memberikan pandangannya bahwa memang konsep perang dalam kitab suci banyak ditemui namun itu harus dimaknai secara kontekstual. Zaman Nabi dulu, bahasa seperti itu yang sesuai untuk mereka sehingga digunakanlah berbagai bahasa yang mungkin sekarang dianggap terlalu keras sehingga untuk memahami kitab suci harus dipahami secara sosio-historis. 

Sunday, December 11, 2022

All Quiet on the Western Front

Reviu Film

Jerman Utara, Musim Semi 1917

Perang dan damai adalah dua diskursus utama dalam dunia hubungan internasional pada awal pembentukannya tahun 1919. Pada masa itu bertepatan dengan selesainya perang dunia I. Momentun perang menjadi bahan refleksi untuk memikirkan solusi kehidupan dunia yang lebih baik. Perang lahir dari sebuah ego manusia untuk memaksakan kepentingannya.

Perang dunia I dikenal sebagai bencana besar peradaban manusia pada awal zaman modern. Perang tersebut berlangsung empat tahun sejak 1914 sampai dengan 1918 dan menelan korban jiwa lebih dari 17 juta manusia. Sebuah kematian yang disebabkan oleh jiwa binatang manusia yang menjadi serigala atas sesamanya. Sejarah perang kemudian dipelajari melalui berbagai media antara lain melalui kisah yang ditulis ulang maupun diceritakan dalam sebuah film.

Salah satu film yang mengupas satu sisi perang dunia I adalah film yang berjudul All Quiet on the Western Front. Sebuah film perang yang berbahasa Jerman dan menggambarkan mozaik perang yang berlangsung di garis depan perbatasan, sejarah tersebut dikenal dengan perang parit.. Suasana perang yang terjadi menggambarkan begitu banyak hal absurd dalam kehidupan manusia termasuk dalam kehidupan berperang.

Perang biasanya terjadi ketika negara merasa berkuasa dan memiliki kekuatan untuk menguasai negara lain. Salah satu dialog dalam film tersebut menyatakan “Kalau manusia diberi kekuasaan maka dia akan menjadi binatang.” Artinya bahwa kondisi perang terjadi ketika dua belah pihak sama-sama merasa mampu mengalahkan satu sama lain.

Cerita perang dimulai ketika Paul Baumer dan kawan-kawannya mendaftar sebagai prajurit perang secara sukarela. Mereka adalah remaja berumur belasan tahun menjelang dua puluhan. Pilihan menjadi prajurit sebenarnya bukan pilihan sadar karena adalah andil dari guru mereka membangkitkan euphoria nasionalisme yang pada akhirnya membangkitkan semangat darah muda dalam diri mereka. 

Demi kaisar, demi Tuhan, demi tanah air.

“Setiap keraguan dan kebimbangan adalah penghianatan kepada tanah air.” Retorika umum dalam menstimulasi rasa nasionalisme untuk menunjukkan bahwa apa yang akan dilakukan adalah sebagai sebuah tindakan untuk kebanggaan sebagai bagian dari sebuah bangsa yang besar.

Pada dasarnya, film tersebut juga menggambarkan bahwa para remaja yang ikut dalam perang memiliki motif yang berbeda. Ada yang ingin dianggap kerena sehingga ketika pulang mereka bisa dengan mudah menikah, ada yang kemudian ingin membuktikan kepada ibunya bahwa dia bisa menjadi seorang prajurit dan tetap survive.

Motif yang mendorong mereka maju ke medan perang kemudian sirna secara mendadak ketika melihat suasana dalam perang. Tidak ada lagi perasaan keren dalam perang selain insting manusia untuk mempertahankan hidupnya.

Paul kemudian lebih sering berpikir dan merefleksikan apa yang terjadi. Perang tentunya bukan menjadi sebuah pilihan rasional bagi seorang remaja seperti Paul. Satu persatu teman-temannya meninggal di depan matanya dengan kondisi tubuh yang hancur. Meskipun demikian, Paul tetap harus berada di medan perang dan membunuh musuhnya sekaligus berperang dengan hati nuraninya.

Dalam satu kesempatan, Paul terjebak di kubangan dan seorang musuh datang ingin menembaknya. Alhasil sebelum menembak, sebuah ledakan terjadi tepat di samping musuhnya dan musuhnya jatuh di kubangan yang sama. Keduanya terjebak dan berhasrat saling membunuh. Paul berhasil meraih sebuah bayonet lalu menikam musuhnya berkali-kali tepat di jantungnya. Musuhnya tidak lantas tewas namun masih mengeluarkan bunyi yang menyiksa nurani Paul. Pada akhirnya Paul berusaha untuk menyelamatkan musuhnya dengan memberi air namun tidak tertolong. Paul menemukan foto anak isteri musuhnya di dalam saku bajunya yang akhirnya semakin mencabik-cabik hati nuraninya. Mereka adalah manusia yang sama dan hanya korban dari praktik politik para penguasa yang menjebak mereka dalam medan perang.

Diplomasi antara Jerman dan Prancis ketika perang parit di front barat terus memakan korban. Pertimbangan para pemimpin negara tidak pada statistik manusia yang meregang nyawa di medan perang namun kalkulasinya adalah bagaimana memenangkan perang untuk membanggakan negaranya. 

Gencatan senjata akhirnya disepakati pada bulan tanggal dan jam 11. Seharusnya para prajurit merayakan kesepakatan tersebut sebagai sebuah sinyal kepulangan mereka ke rumah, namun tidak demikian dengan penguasa. Beberapa jam sebelum masuk jam 11, pemimpin Jerman tidak ingin kehilangan muka sehingga memaksa semua prajurit yang tersisa untuk menyerbu garis pertahanan lawan. Prajurit yang menolak berperang untuk terakhir kalinya akhirnya ditembak mati. 

Paul dan semua prajurit maju ke front barat untuk terakhir kalinya. Pertempuran berlangsung secara sengit 15 menit sebelum jam 11. Korban jiwa tergeletak di sekitaran parit. Paul yang mengejar musuhnya sampai di bunker 2 harus meregang nyawa beberapa menit sebelum gencatan senjata dimulai.

Perang ini benar-benar sebuah tragedi memilukan bagi kemanusiaan karena hanya dengan dengan memperebutkan beberapa ratus meter wilayah, harus mengorbankan lebih dari 3 juta jiwa prajurit melayang. 

Kemudian apakah setelah perang, ada pihak yang menang? Terjadi tidak. Menang itu hanya statistik namun secara psikologis, semua pihak kalah dengan mengorbankan hati nuraninya menghancurkan kehidupan. Tidak ada yang lebih kejam daripada melihat kemanusiaan berada pada titik nadir. 

Perang memang absurd. Seperti lirik band Gigi “banyak yang cinta damai tapi perang semakin ramai.” Banyak sekali momen absurditas yang terjadi dari potongan film seperti misalnya prajurit yang menolak ikut perang untuk terakhir kalinya harus meregang nyawa ditembak mati oleh pemimpin mereka sedangkan mereka yang ikut perang terakhir pun meninggal di tangan musuh. Menolak atau ikut juga tetap saja meninggal. Absurditas lain ketika salah seorang temannya, Kat tidak meninggal saat perang berlangsung namun meninggal oleh tembakan senapan anak petani karena mencuri angsa. 

Ajal memang misterius, menjemput manusia pada situasi yang sama sekali tidak terduga. Seorang tentara yang sudah berperang sekian kali tidak meninggal di medan perang namun ternyata meninggal hanya dengan satu butir peluru oleh seorang bocah anak petani yang merasa terganggu karena hewan peliharaannya dicuri. Kematian yang terus membayangi di situasi perang ternyata datang ketika pada kondisi yang dianggap aman-aman saja.

Secara umum, film tersebut memberikan penonton insight yang mendalam tentang sebuah fragmen situasi perang yang menyeramkan. Para reviewer film tersebut menganggap bahwa film ini membawa pesan anti-perang. Selebihnya gambaran peperangan dipertontonkan untuk mendapatkan gambaran bahwa perang itu benar-benar merusak. 

Perang diselesaikan hanya dengan beberapa lembar kertas berserta tandatangan penguasa kedua negara. 

Sebagai mantan mahasiswa hubungan internasional, saya sebenarnya berharap ada banyak scene tentang proses negosiasi yang berlangsung secara detail untuk menggambarkan bagaimana para stake holder memutuskan untuk berperang atau berdamai. Selebihnya, film ini cukup baik untuk menggambarkan fragmen suasana perang dan kondisi psikologis prajurit perang yang juga hanya manusia biasa namun tidak memiliki kuasa atas diri mereka. Ada negara yang memaksa meraka hadir di medan pertempuran dan harus membunuh manusia lain atas nama nasionalisme.


Day #5


Buku 2026 (2)

Buku kedua yang saya lumat selama seharian di Januari 2026 adalah buku perjalanan spiritual Mohammad Zaim. Buku tentang perjalanan panjang t...